Penguatan Ekosistem Nikel dan Baterai EV: Memastikan Indonesia tetap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global kendaraan listrik dunia.
Hilirisasi Mineral Non-Nikel: Memperluas cakupan hilirisasi ke sektor tembaga, bauksit, timah, hingga mineral strategis lainnya agar memberikan nilai tambah maksimal bagi pendapatan negara.
Penciptaan Lapangan Kerja: Menjamin bahwa setiap pembangunan smelter dan pabrik pengolahan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar dan meningkatkan keahlian SDM nasional.
Peningkatan Investasi Asing (FDI): Menjaga iklim investasi yang kondusif agar investor global tetap percaya untuk menanamkan modalnya dalam proyek-proyek industri pengolahan di Indonesia.
Bahlil, yang sebelumnya memiliki rekam jejak kuat saat menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM, diharapkan dapat menggunakan koneksi dan pemahamannya terhadap dunia investasi untuk mempercepat realisasi proyek-proyek hilirisasi ini.
Tantangan Transisi Energi di Tengah Arus Komoditas
Di sisi lain, mandat "Transisi Energi" dalam jabatan baru Bahlil memberikan dimensi baru yang cukup kompleks. Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan: di satu sisi harus terus mengandalkan komoditas energi fosil (seperti batu bara) yang menjadi tulang punggung ekonomi, namun di sisi lain harus segera beralih ke energi bersih demi memenuhi komitmen iklim global (Net Zero Emission).
Sebagai Menteri ESDM sekaligus Menko Transisi Energi, Bahlil akan menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan dua kepentingan ini. Berikut adalah poin-poin krusial dalam agenda transisi energi yang harus dikawal:
1. Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT)
Indonesia memiliki potensi energi surya, angin, panas bumi, dan hidro yang sangat melimpah. Namun, tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan sumber-sumber EBT ini ke dalam jaringan listrik nasional (PLN) secara efisien dan terjangkau bagi masyarakat.
2. Dekarbonisasi Sektor Industri