DWJ Manajement - PORTAL

Bandara Wunopito NTT Ditutup Imbas Abu Vulkanik Gunung Lewotolok

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
Bandara Wunopito NTT Ditutup Imbas Abu Vulkanik Gunung Lewotolok

Bandara Wunopito NTT Ditutup Sementara Akibat Hujan Abu Vulkanik Gunung Lewotolok

Langkah preventif diambil otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan penumpang di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik di wilayah Nusa Tenggara Timur.

NUSA TENGGARA TIMUR – Aktivitas vulkanik Gunung Lewotolok yang kian meningkat memaksa otoritas penerbangan mengambil langkah tegas demi keselamatan jiwa. Bandara Wunopito di Nusa Tenggara Timur (NTT) secara resmi dinyatakan ditutup sementara untuk seluruh aktivitas penerbangan mulai tanggal 24 hingga 25 September 2026.

Keputusan penutupan ini diambil setelah pantauan satelit dan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik yang masuk ke dalam ruang udara di sekitar wilayah operasional bandara. Kondisi ini dinilai sangat berisiko bagi keselamatan penerbangan, baik untuk pesawat yang akan lepas landas maupun yang akan mendarat.

Alasan Teknis di Balik Penutupan Bandara Wunopito

Penutupan bandara akibat abu vulkanik bukan sekadar prosedur rutin, melainkan langkah darurat yang didasarkan pada perhitungan risiko teknis yang sangat tinggi. Abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Lewotolok terdiri dari partikel-partikel kecil silika yang bersifat abrasif dan sangat panas.

Ketika pesawat terbang menembus awan abu, terdapat beberapa risiko fatal yang dapat terjadi, di antaranya:

Kerusakan Mesin Jet: Partikel silika dalam abu vulkanik dapat mencair saat masuk ke dalam ruang bakar mesin pesawat yang bersuhu sangat tinggi. Silika yang mencair ini kemudian akan membeku kembali dan menempel pada komponen mesin, yang dapat menyebabkan mesin mati secara mendadak (engine stall) di tengah penerbangan.

Penurunan Jarak Pandang: Konsentrasi abu yang tinggi di udara dapat menurunkan jarak pandang pilot secara drastis, yang sangat membahayakan saat proses lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing).

Gangguan Instrumen Navigasi: Partikel debu halus dapat mengganggu sensor-sensor sensitif pada pesawat, termasuk sistem Pitot tube yang berfungsi mengukur kecepatan udara, sehingga dapat memberikan data yang tidak akurat kepada pilot.

Erosi pada Struktur Pesawat: Sifat abu yang abrasif dapat merusak kaca kokpit dan permukaan badan pesawat jika terpapar dalam durasi yang lama atau pada kecepatan tinggi.