DWJ Manajement - PORTAL

Bank Andalkan Deposito Buat Dorong Dana Pihak Ketiga

Oleh: DWJ-Manajement 03 Aug 2026
Bank Andalkan Deposito Buat Dorong Dana Pihak Ketiga

Mengapa Deposito Menjadi Andalan Strategis Perbankan?

Meskipun tabungan dan giro menyumbang volume yang besar, perbankan saat ini cenderung mengandalkan deposito untuk memperkuat struktur pendanaan mereka. Ada beberapa alasan teknis dan strategis mengapa deposito menjadi instrumen yang sangat diandalkan dalam menggerakkan DPK.

1. Kepastian Likuiditas Jangka Menengah

Berbeda dengan tabungan atau giro yang sifatnya sangat cair dan dapat ditarik sewaktu-waktu oleh nasabah, deposito memiliki jangka waktu jatuh tempo yang jelas. Hal ini memberikan kepastian bagi manajemen bank dalam melakukan perencanaan likuiditas. Dengan mengetahui kapan dana tersebut akan kembali, bank dapat lebih percaya diri dalam menyalurkan kredit jangka panjang tanpa khawatir akan terjadi penarikan dana besar-besaran secara mendadak (bank run).

2. Pengelolaan Cost of Funds (Biaya Dana)

Dalam dunia perbankan, terdapat manajemen yang sangat ketat mengenai Cost of Funds (CoF) atau biaya dana. Meskipun deposito seringkali menawarkan suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan, bank dapat mengatur strategi suku bunga deposito secara bertingkat (tiered rate) untuk menjaga margin keuntungan. Dengan mengamankan dana melalui deposito, bank dapat menyeimbangkan antara kewajiban membayar bunga dengan target Net Interest Margin (NIM) yang sehat.

3. Menarik Minat Investor dan Nasabah High Net Worth

Instrumen deposito tetap menjadi primadona bagi nasabah kelas menengah ke atas atau High Net Worth Individuals (HNWI). Di tengah fluktuasi pasar modal yang tidak menentu, deposito menawarkan profil risiko yang sangat rendah dengan imbal hasil yang sudah terukur. Perbankan memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan program-program deposito menarik untuk memastikan aliran dana masuk tetap deras.

Dampak Pertumbuhan DPK terhadap Penyaluran Kredit

Ketersediaan DPK yang melimpah secara langsung berkorelasi dengan kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit. Dengan total dana mencapai Rp10.281 triliun, perbankan memiliki "amunisi" yang cukup untuk melakukan ekspansi kredit ke sektor-sektor strategis seperti UMKM, sektor manufaktur, hingga konsumsi rumah tangga.

Kenaikan DPK ini diharapkan dapat memicu perputaran uang di masyarakat. Ketika bank memiliki likuiditas yang cukup, mereka dapat menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif. Hal ini akan sangat membantu pelaku usaha dalam mendapatkan modal kerja dengan biaya yang lebih terjangkau, yang pada akhirnya akan menstimulus pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun, para analis mengingatkan bahwa bank harus tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Ketersediaan dana yang besar harus dibarengi dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking) agar kualitas aset tetap terjaga dan risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tidak meningkat.