Sisi Beban: Suku bunga simpanan (deposito) harus naik dengan cepat untuk menahan likuiditas agar tidak lari ke instrumen lain.
Sisi Pendapatan: Penyesuaian suku bunga kredit cenderung lebih lambat (sticky). Bank tidak bisa serta-merta menaikkan bunga kredit secara drastis karena khawatir akan meningkatkan risiko kredit bermasalah (NPL) dan menurunkan permintaan kredit dari debitur.
Ketimpangan antara kenaikan biaya dana yang cepat dan kenaikan pendapatan bunga yang lambat inilah yang menyebabkan margin bunga bersih tergerus. Jika NIM terus menyusut, kemampuan bank untuk mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dan membagikan dividen kepada pemegang saham akan semakin terbatas.
Mengapa Likuiditas Menjadi Masalah Utama bagi Bank?
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa likuiditas yang kering dianggap sebagai ancaman serius? Perlu dipahami bahwa likuiditas adalah "darah" bagi operasional perbankan. Tanpa likuiditas yang cukup, bank akan mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi intermediasinya.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa kekeringan likuiditas menjadi masalah krusial:
Keterbatasan Ekspansi Kredit: Bank yang mengalami kesulitan likuiditas akan membatasi pemberian kredit baru. Hal ini menghambat sektor industri yang sedang membutuhkan modal kerja atau investasi.
Kenaikan Risiko Pendanaan: Bank terpaksa mencari pendanaan dari pasar uang antarbank dengan bunga yang sangat tinggi, yang pada akhirnya semakin memperburuk struktur biaya mereka.
Stabilitas Sistemik: Jika ketidakseimbangan likuiditas terjadi secara masif di industri perbankan, hal ini dapat memicu ketidakpercayaan pasar yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
Dampak Berantai ke Penyaluran Kredit dan Ekonomi Riil
Kecemasan para bankir memiliki implikasi yang jauh melampaui dinding gedung perbankan. Ketika perbankan memutuskan untuk "mengerem" penyaluran kredit akibat ketatnya likuiditas dan tingginya biaya dana, dampaknya akan segera dirasakan oleh sektor ekonomi riil. Perusahaan-perusahaan yang mengandalkan kredit modal kerja untuk operasional harian akan menghadapi kesulitan likuiditas serupa.