DWJ Manajement - PORTAL

Batas Bawah Gocap Dihapus, 6 Saham Ini Kompak ARB dan Otw Rp1

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
Batas Bawah Gocap Dihapus, 6 Saham Ini Kompak ARB dan Otw Rp1

Ketimbang hanya tertahan di level gocap, saham-saham ini justru mengalami tekanan jual yang sangat masif. Mekanisme ARB yang terjadi secara berturut-turut menunjukkan bahwa minat beli (bid) hampir tidak ada, sementara tekanan jual (offer) sangat mendominasi pasar. Berikut adalah beberapa faktor utama mengapa saham-saham tersebut mengalami kondisi ini:

Sentimen Negatif Fundamental: Sebagian besar saham tersebut sedang menghadapi masalah kinerja keuangan atau isu korporasi yang mendesak.

Ketiadaan Likuiditas: Dengan hilangnya batas Rp50, tidak ada lagi mekanisme yang menahan harga, sehingga saat permintaan hilang, harga turun tanpa hambatan.

Efek Domino ARB: Ketika satu saham terkena ARB, investor lain yang memegang saham serupa cenderung ikut menjual karena takut akan efek domino yang sama.

Spekulasi Pasar: Perubahan regulasi ini dimanfaatkan oleh sebagian pelaku pasar untuk melakukan aksi jual cepat demi menyelamatkan sisa modal mereka.

Mengapa Saham Terjebak dalam Rantai ARB?

Perlu dipahami bahwa Auto Rejection Bawah (ARB) adalah mekanisme pasar untuk membatasi penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan guna menjaga stabilitas. Namun, ketika sebuah saham sudah berada dalam tren penurunan yang sangat kuat, ARB justru bisa menjadi "jebakan" bagi investor ritel.

Saat saham mengalami ARB, artinya tidak ada pembeli yang bersedia menampung di harga tersebut. Akibatnya, investor yang ingin menjual sahamnya tidak bisa melakukan transaksi hingga hari perdagangan berikutnya. Hal ini menciptakan efek bola salju; ketika pasar dibuka kembali keesokan harinya, tekanan jual tetap tinggi, dan saham tersebut kembali terkena ARB, hingga akhirnya merosot menuju level Rp1.

Risiko Tinggi bagi Investor Ritel

Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi para investor ritel, terutama mereka yang memiliki gaya investasi spekulatif atau sering bermain di saham-saham lapis ketiga (third liner). Saham-saham yang sering disebut sebagai "saham gorengan" adalah yang paling rentan terkena dampak dari penghapusan batas bawah ini.