"Beli di Pasar Saja, Murah Kan?"
Dalam pernyataannya, Mentan Amran bahkan memberikan saran praktis kepada masyarakat yang mengeluhkan kesulitan mencari beras di minimarket atau supermarket. Ia menyarankan warga untuk langsung menuju pasar tradisional untuk mendapatkan kebutuhan beras mereka.
"Kalau di ritel modern kosong, ya beli di pasar saja. Murah, kan?" ujar Amran merujuk pada disparitas harga yang biasanya terjadi antara pasar tradisional dan ritel modern. Ia meyakini bahwa pasar tradisional tetap menjadi tumpuan utama penyaluran beras dengan harga yang lebih kompetitif dan stok yang lebih fleksibel.
Pernyataan ini seolah memberikan sinyal bahwa pemerintah lebih mendorong distribusi beras melalui jalur konvensional agar tetap dapat dijangkau oleh masyarakat luas, terutama kelompok menengah ke bawah yang sangat bergantung pada stabilitas harga di pasar tradisional.
Analisis Penyebab Disparitas Stok dan Harga
Meskipun pemerintah menyatakan stok aman, muncul pertanyaan besar di kalangan pengamat ekonomi mengenai mengapa ritel modern justru mengalami kendala pasokan. Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya fenomena "rak kosong" ini:
Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET): Penerapan HET yang ketat di ritel modern terkadang membuat pemasok enggan menyalurkan produknya ke saluran tersebut jika biaya operasional dan harga beli dari petani sudah melampaui batas HET yang ditetapkan.
Rantai Distribusi yang Bergeser: Distributor besar cenderung mengalihkan pasokan beras ke pasar grosir dan pasar tradisional karena mekanisme harga yang lebih dinamis dan tidak terikat kaku oleh regulasi HET ritel modern.
Prioritas Stok Bulog: Penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) oleh Bulog seringkali lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas di pasar tradisional dan operasi pasar, yang secara otomatis berdampak pada minimnya stok beras subsidi di rak-rak minimarket.