Rantai Distribusi: Jeda waktu antara makanan dimasak hingga sampai ke tangan siswa sangat krusial. Jika distribusi terlambat, risiko kontaminasi bakteri meningkat.
Kualitas Bahan Baku: Fluktuasi kualitas bahan pangan di pasar dapat memengaruhi keamanan kandungan makanan yang disajikan.
Keterbatasan Pengawasan: Mengingat cakupan program yang masif, pengawasan secara langsung terhadap setiap titik dapur umum menjadi tantangan logistik yang sangat berat.
Kasus-kasus keracunan yang sempat dilaporkan dalam beberapa uji coba di berbagai daerah menjadi alarm keras bahwa protokol keamanan pangan harus diperketat sebelum program ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Kompensasi Bukan Sekadar Biaya Medis
Dalam diskusi di Komisi IX DPR, muncul pemikiran bahwa kompensasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada penggantian biaya pengobatan di rumah sakit. Lebih dari itu, kompensasi kelembagaan mencakup bentuk pertanggungjawaban moral dan administratif dari negara.
Beberapa poin penting mengenai apa yang seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab BGN meliputi:
Pemulihan Kesehatan Total: Memastikan korban mendapatkan penanganan medis hingga benar-benar pulih sepenuhnya.
Pendampingan Psikologis: Terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma setelah kejadian keracunan massal di sekolah.
Audit Investigatif: Melakukan investigasi transparan mengenai penyebab keracunan dan mengumumkan hasilnya kepada publik sebagai bentuk keterbukaan informasi.
Evaluasi Vendor: Memberikan sanksi tegas kepada penyedia jasa yang terbukti lalai dalam menjaga standar keamanan pangan.