Pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Instrumen ini digunakan untuk mengelola ekspektasi nilai tukar di masa depan tanpa perlu ada penyerahan fisik valas secara langsung, sehingga membantu mengurangi tekanan di pasar spot.
Pasar Sekuritas (SBN): BI juga melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sehingga aliran modal masuk (inflow) tetap terjaga.
Penguatan Instrumen Moneter: Peran SRBI dan SVBI
Selain intervensi langsung, Bank Indonesia juga telah meluncurkan berbagai instrumen moneter baru yang bertujuan untuk menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri secara lebih stabil. Instrumen ini menjadi sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga selisih suku bunga yang kompetitif.
Dua instrumen utama yang menjadi primadona adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI). Melalui SRBI, BI menawarkan instrumen yang memberikan imbal hasil menarik bagi investor asing dalam denominasi rupiah. Hal ini diharapkan dapat mendorong aliran modal jangka pendek yang bersifat stabil untuk memperkuat posisi rupiah.
Dengan adanya SRBI, BI memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola likuiditas rupiah di pasar tanpa harus selalu bergantung pada kebijakan suku bunga acuan (BI-Rate) yang dapat berdampak langsung pada biaya pinjaman sektor riil. Ini adalah bentuk keseimbangan antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Local Currency Settlement (LCS): Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Langkah jangka panjang yang diambil BI adalah memperluas penggunaan Local Currency Settlement (LCS) atau Penyelesaian Mata Uang Lokal. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan internasional Indonesia terhadap dolar AS.
Melalui kerja sama bilateral dengan negara-negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara lainnya, pelaku usaha kini didorong untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi ekspor-impor. Beberapa keuntungan dari kebijakan LCS ini meliputi:
Mengurangi Permintaan Dolar: Semakin sedikit penggunaan dolar dalam perdagangan, semakin rendah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.