DWJ Manajement - PORTAL

BI Buka Suara Soal Dolar AS Rp17.900, Ini Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
BI Buka Suara Soal Dolar AS Rp17.900, Ini Biang Keroknya

Kedua, bagi pelaku industri manufaktur, kenaikan biaya input akibat dolar yang mahal akan menekan margin keuntungan perusahaan. Jika perusahaan tidak mampu meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen, maka produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dapat terganggu. Dalam skenario terburuk, hal ini dapat berdampak pada penyesuaian tenaga kerja atau pengurangan kapasitas produksi.

Langkah Strategis Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas

Menghadapi tantangan yang kompleks ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI tidak tinggal diam dan terus melakukan berbagai langkah kebijakan moneter untuk meredam volatilitas agar tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Beberapa instrumen dan strategi yang digunakan oleh Bank Indonesia meliputi:

Intervensi di Pasar Valas: BI melakukan intervensi melalui pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pasar SBN untuk memastikan pergerakan rupiah tetap berada dalam koridor yang wajar.

Optimalisasi Instrumen Moneter: Penggunaan instrumen seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) bertujuan untuk menarik aliran modal asing masuk (inflow) guna memperkuat cadangan devisa dan menstabilkan rupiah.

Kebijakan Suku Bunga: BI secara cermat memantau perkembangan inflasi dan nilai tukar untuk menentukan kebijakan suku bunga acuan yang mampu menjaga daya tarik aset rupiah tanpa mematikan pertumbuhan ekonomi.

Koordinasi dengan Pemerintah: Melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID), BI berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan bahwa pelemahan nilai tukar tidak memicu lonjakan inflasi yang tidak terkendali.

Bank Indonesia menekankan bahwa meskipun tekanan global cukup besar, fundamental ekonomi Indonesia tetap dinilai cukup tangguh. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan tingkat inflasi yang relatif terkendali menjadi modal penting bagi otoritas untuk melakukan stabilisasi.

Kesimpulan

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.900 per dolar AS merupakan hasil dari tekanan ganda, yakni faktor eksternal berupa ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (The Fed) dan faktor domestik berupa tingginya kebutuhan dolar AS oleh para importir. Ekspektasi suku bunga tinggi di AS memicu aliran modal keluar, sementara kebutuhan valas untuk perdagangan internasional menambah beban terhadap mata uang domestik.

Meskipun situasi ini menantang, Bank Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi melalui intervensi pasar dan optimalisasi instrumen moneter untuk menjaga stabilitas. Pelaku usaha dan masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga barang impor, namun tetap optimis terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh otoritas moneter untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.