Dalam langkah strategisnya, BI beralih ke penggunaan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Kedua instrumen ini merupakan kontrak derivatif yang memungkinkan pelaku pasar untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko nilai tukar tanpa harus melakukan pertukaran fisik mata uang secara langsung di pasar spot pada saat kontrak disepakati.
Berikut adalah perbedaan mendasar dan peran kedua instrumen tersebut dalam strategi BI:
1. Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
DNDF adalah instrumen derivatif yang diperdagangkan di dalam negeri. Melalui DNDF, pelaku pasar dapat menentukan kurs masa depan yang disepakati. Jika pada saat jatuh tempo kurs aktual berbeda dengan kurs DNDF, maka selisihnya akan diselesaikan dalam mata uang Rupiah. Keunggulan utama DNDF adalah:
Tidak Menguras Devisa: Karena penyelesaiannya menggunakan selisih nilai (cash settlement) dalam Rupiah, BI tidak perlu mengeluarkan dolar AS secara fisik secara besar-besaran.
Mengelola Ekspektasi: Membantu pasar membentuk ekspektasi nilai tukar yang lebih stabil di masa depan.
Likuiditas Dalam Negeri: Memperkuat struktur pasar keuangan domestik.
2. Non-Deliverable Forward (NDF)
Berbeda dengan DNDF, NDF biasanya diperdagangkan di pasar internasional (luar negeri). Meskipun dilakukan di luar negeri, pergerakan harga NDF tetap menjadi indikator penting bagi pelaku pasar mengenai persepsi mereka terhadap nilai Rupiah. Dengan memantau dan mengintervensi melalui instrumen serupa di pasar derivatif, BI dapat memberikan sinyal kuat kepada pasar global untuk menahan tekanan terhadap Rupiah.
Dinamika Global dan Tekanan terhadap Rupiah
Keputusan BI untuk mengubah pola intervensi ini tidak terlepas dari kondisi makroekonomi global yang sedang penuh tekanan. Penguatan dolar AS (US Dollar Index) yang didorong oleh kebijakan suku bunga The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) yang tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer) telah memberikan tekanan berat terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah.
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia juga memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang menuju aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven assets) seperti dolar AS. Kondisi ini menciptakan permintaan yang tinggi terhadap dolar dan meningkatkan volatilitas di pasar mata uang.