DWJ Manajement - PORTAL

Bisakah Erupsi Gunung Api Direkayasa Manusia? Ini Kata Pakar

Oleh: DWJ-Manajement 08 Sep 2026
Bisakah Erupsi Gunung Api Direkayasa Manusia? Ini Kata Pakar

Banyak pihak mempertanyakan, jika manusia memiliki teknologi nuklir atau senjata energi tinggi, mungkinkah hal tersebut digunakan untuk memicu gunung meletus? Para ahli menjawab dengan melihat perbandingan skala energi yang terlibat.

Energi yang dilepaskan saat sebuah gunung api besar mengalami erupsi bersifat katastrofik dan jauh melampaui kapasitas energi yang dapat dihasilkan oleh manusia saat ini. Untuk memicu erupsi, seseorang harus mampu menembus kerak bumi hingga kedalaman puluhan kilometer dan mengintervensi tekanan magma yang berada di sana tanpa merusak sistem itu sendiri secara tidak terkendali. Hal ini secara teknis tidak mungkin dilakukan dengan teknologi yang ada saat ini.

Selain itu, kondisi di bawah permukaan bumi sangat dinamis dan tidak terprediksi. Upaya untuk "menembakkan" energi ke dalam sistem vulkanik justru akan memicu reaksi yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia, namun secara praktis, kemampuan untuk "mengarahkan" erupsi ke lokasi tertentu adalah hal yang bersifat fiksi ilmiah semata.

Bahaya Penyebaran Hoaks di Tengah Bencana

Munculnya narasi mengenai rekayasa teknologi bukan sekadar perdebatan akademis, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik. Di saat masyarakat membutuhkan panduan mitigasi yang jelas dari pemerintah, informasi palsu atau hoaks justru dapat mengalihkan perhatian dan menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan jika teori konspirasi ini terus dibiarkan berkembang:

Distrust terhadap Otoritas: Masyarakat mungkin menjadi tidak percaya pada peringatan dini yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) atau BMKG.

Kepanikan Massal: Ketakutan bahwa bencana adalah "buatan" dapat menyebabkan arus evakuasi yang tidak teratur, yang justru membahayakan nyawa.

Pengabaian Mitigasi: Jika masyarakat percaya bencana adalah sesuatu yang bisa direkayasa secara jahat, mereka mungkin akan mengabaikan langkah-langkah persiapan mandiri yang bersifat preventif.

Para ahli mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak memiliki sumber ilmiah yang jelas. Media sosial sering kali menjadi tempat berkembangnya narasi tanpa dasar yang hanya mengejar klik atau sensasi.

Cara Membedakan Informasi Ilmiah dan Hoaks Vulkanologi

Agar tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan, masyarakat disarankan untuk menggunakan parameter berikut dalam menyerap berita terkait bencana alam: