BMKG Ungkap Rekor Kemarau Ekstrem: Satu Daerah di Indonesia Tak Diguyur Hujan Selama 131 Hari
Fenomena El Nino 2026 memicu anomali cuaca ekstrem di tanah air, mengakibatkan salah satu wilayah mencatatkan durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merilis temuan mengejutkan terkait dampak fenomena El Nino yang melanda Indonesia pada tahun 2026. Dalam laporan terbaru yang dipaparkan, BMKG mengungkapkan adanya satu wilayah di Indonesia yang mengalami durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) paling ekstrem, yakni mencapai 131 hari berturut-turut.
Kondisi ini menandai salah satu periode kekeringan paling intens dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya menjadi catatan statistik bagi para ahli meteorologi, tetapi juga menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih di wilayah terdampak.
Dampak El Nino 2026 terhadap Pola Curah Hujan Nasional
Fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2026 ini dinilai memiliki intensitas yang lebih kuat dibandingkan siklus sebelumnya. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah menggeser pola sirkulasi atmosfer, yang mengakibatkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia.
BMKG menjelaskan bahwa berkurangnya suplai uap air dari laut ke atmosfer menyebabkan musim kemarau berlangsung jauh lebih panjang dari biasanya. Wilayah yang seharusnya sudah memasuki musim penghujan, justru masih terjebak dalam kondisi kering kerontang. Hal ini memicu munculnya Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam durasi yang tidak wajar.
Secara teknis, HTH didefinisikan sebagai rentang waktu di mana suatu wilayah tidak mengalami hujan dengan intensitas tertentu dalam kurun waktu yang berkelanjutan. Dalam kasus ini, angka 131 hari menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah kehilangan siklus hidrologi normalnya selama lebih dari empat bulan.
Mengapa Angka 131 Hari Menjadi Sangat Signifikan?
Dalam perspektif klimatologi, durasi 131 hari tanpa presipitasi adalah angka yang sangat mengkhawatirkan. Biasanya, siklus kemarau di Indonesia memiliki batas toleransi tertentu sebelum dampaknya mulai merusak ekosistem. Ketika angka tersebut menembus batas psikologis dan biologis, beberapa dampak sistemik mulai muncul, antara lain:
Penurunan Muka Air Tanah: Sumur-sumur warga mulai mengering karena cadangan air di dalam akuifer tidak mendapatkan pengisian ulang (recharge) dari air hujan.