DWJ Manajement - PORTAL

BMKG Wanti-wanti September Masih Fase Kritis Karhutla

Oleh: DWJ-Manajement • 08 Sep 2026
BMKG Wanti-wanti September Masih Fase Kritis Karhutla

BMKG Ingatkan Waspada Karhutla di September 2026, Fase Kritis Menanti!

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat Drastis Akibat Cuaca Kering, Masyarakat Diminta Tetap Siaga

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diprediksi akan memasuki fase paling kritis pada bulan September 2026. Kondisi cuaca yang ekstrem dan minimnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia menjadi faktor utama yang memicu peningkatan risiko bencana ini.

Pihak BMKG menekankan bahwa fenomena alam yang terjadi saat ini menunjukkan tren peningkatan suhu udara dan penurunan tingkat kelembapan yang signifikan. Hal ini menyebabkan vegetasi di kawasan hutan dan lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Mengapa September Menjadi Fase Kritis?

Secara klimatologis, bulan September di Indonesia sering kali menjadi puncak dari musim kemarau. Pada periode ini, massa udara kering mendominasi sebagian besar wilayah nusantara, yang mengakibatkan penguapan (evaporasi) terjadi lebih cepat. Kondisi ini menciptakan lapisan kering di permukaan tanah dan lapisan serasah di lantai hutan yang sangat rentan terhadap percikan api sekecil apa pun.

Berikut adalah beberapa faktor meteorologis yang memperburuk kondisi Karhutla pada bulan September:

Defisit Curah Hujan: Minimnya intensitas hujan menyebabkan cadangan air di dalam tanah dan lahan gambut menyusut drastis.

Kelembapan Udara Rendah: Udara yang kering mempercepat proses pengeringan material organik di hutan.

Peningkatan Suhu Permukaan: Radiasi matahari yang intens meningkatkan suhu udara lokal, yang memicu panas berlebih di area rawan.

Angin Kencang: Kecepatan angin yang tinggi dapat mempercepat perambatan api dan menyebarkan partikel asap ke wilayah yang lebih luas.

BMKG mencatat bahwa jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi atau perubahan pola cuaca, maka jumlah titik panas (hotspot) diprediksi akan melonjak tajam dalam beberapa pekan ke depan.

Wilayah yang Berada dalam Zona Merah

Berdasarkan analisis data satelit dan pemantauan cuaca, BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki indeks risiko Karhutla paling tinggi. Wilayah-wilayah ini merupakan daerah yang secara historis memang memiliki kerentanan terhadap kebakaran lahan, terutama yang memiliki karakteristik lahan gambut.

Beberapa wilayah yang perlu mendapatkan perhatian khusus antara lain: