DWJ Manajement - PORTAL

Bos BGN Respons soal Siswa/Orang Tua Diminta Ambil MBG Saat Libur Karhutla

Oleh: DWJ-Manajement 03 Sep 2026
Bos BGN Respons soal Siswa/Orang Tua Diminta Ambil MBG Saat Libur Karhutla

Heboh Orang Tua Diminta Ambil Sendiri Makan Bergizi Gratis Saat Sekolah Libur Akibat Karhutla, Ini Respons Bos BGN

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah tengah menjadi sorotan publik. Bukan karena kualitas gizinya, melainkan karena adanya kendala teknis distribusi di tengah situasi darurat lingkungan. Baru-baru ini, muncul laporan mengenai sejumlah siswa dan orang tua yang diminta untuk mengambil sendiri paket makanan bergizi tersebut di sekolah, padahal kegiatan belajar mengajar (KBM) sedang diliburkan akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menanggapi polemik yang berkembang di masyarakat tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, akhirnya buka suara. Ia memberikan penjelasan terkait mekanisme distribusi program MBG agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut, terutama saat menghadapi kondisi luar biasa seperti bencana alam atau gangguan kesehatan lingkungan.

Polemik Distribusi MBG di Tengah Kabut Asap

Isu ini mencuat setelah beredar informasi bahwa sekolah-sekolah yang terdampak kabut asap akibat karhutla mengambil kebijakan untuk meliburkan siswanya demi alasan kesehatan. Namun, di saat yang sama, paket makanan yang telah disiapkan oleh penyedia jasa katering atau unit layanan BGN tetap harus didistribusikan.

Hal ini memicu keluhan dari para orang tua siswa. Mereka merasa keberatan jika harus keluar rumah dan menempuh perjalanan menuju sekolah hanya untuk mengambil makanan, sementara kondisi kualitas udara di luar ruangan sedang tidak sehat akibat paparan asap karhutla. Banyak yang menilai hal ini justru bertolak belakang dengan semangat perlindungan kesehatan yang ingin dicapai melalui program gizi tersebut.

Beberapa poin utama yang menjadi keresahan masyarakat antara lain:

Risiko Kesehatan: Orang tua khawatir perjalanan mengambil makanan akan mengekspos mereka dan anak-anak pada polusi asap yang berbahaya bagi pernapasan.

Beban Tambahan: Di saat kondisi darurat, masyarakat mengharapkan kemudahan, bukan justru diminta melakukan prosedur pengambilan mandiri yang menyita waktu.

Logistik yang Tidak Efisien: Adanya kesan bahwa koordinasi antara penyedia makanan, pihak sekolah, dan Badan Gizi Nasional belum sinkron saat terjadi perubahan jadwal sekolah secara mendadak.