Satu hal yang sering menjadi perdebatan di tengah masyarakat adalah mengapa penentuan desil sering kali dikaitkan dengan pola konsumsi atau pengeluaran, bukannya pendapatan (income) secara langsung. BPS memiliki alasan metodologis yang sangat kuat terkait hal ini.
Dalam dunia statistik, mengukur pendapatan secara akurat di negara berkembang seperti Indonesia memiliki tantangan yang sangat besar. Banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal, tidak memiliki slip gaji tetap, atau memiliki pendapatan yang fluktuatif. Jika hanya mengandalkan data pendapatan, risiko terjadinya under-reporting (melaporkan pendapatan lebih rendah dari aslinya) sangat tinggi, yang dapat mengakibatkan data menjadi tidak akurat.
Keunggulan Indikator Pengeluaran
Sebaliknya, pengeluaran rumah tangga dianggap sebagai indikator yang jauh lebih stabil dan jujur untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pengeluaran menjadi tolok ukur utama:
Refleksi Gaya Hidup: Pola konsumsi seseorang, mulai dari jenis makanan yang dikonsumsi hingga penggunaan listrik dan biaya transportasi, secara otomatis mencerminkan kapasitas ekonomi mereka.
Akurasi Data: Masyarakat cenderung lebih jujur saat melaporkan apa yang mereka belanjakan dibandingkan dengan berapa total penghasilan yang mereka dapatkan dalam sebulan.
Ketersediaan Data: Melalui survei rutin seperti Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional), BPS dapat menangkap data pengeluaran secara lebih mendetail dan komprehensif.
Peran Vital Susenas dalam Penentuan Desil
Data yang digunakan BPS untuk menentukan desil tidak diambil secara sembarangan. Instrumen utama yang digunakan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional atau yang lebih dikenal dengan Susenas. Survei ini dilakukan secara berkala dan mencakup sampel rumah tangga yang representatif di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam Susenas, responden diminta untuk memberikan informasi mendalam mengenai pengeluaran mereka, mencakup pengeluaran makanan maupun non-makanan. Pengeluaran makanan sangat penting karena sering kali menjadi indikator utama tingkat kerentanan pangan, sementara pengeluaran non-makanan (seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan) menunjukkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Setelah data terkumpul, BPS akan melakukan proses pengolahan data yang kompleks. Seluruh rumah tangga dalam sampel akan diurutkan dari yang pengeluarannya paling rendah hingga yang paling tinggi. Setelah diurutkan, barulah populasi tersebut dipotong menjadi sepuluh bagian yang sama besar untuk menentukan siapa yang masuk ke dalam Desil 1, Desil 2, dan seterusnya.
Implikasi Data Desil terhadap Kebijakan Pemerintah