Permintaan Konsumsi: Adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat di pertengahan kuartal juga turut memberikan tekanan pada harga jasa dan barang tertentu.
Faktor Distribusi: Kendala logistik di beberapa wilayah Indonesia masih menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga antar wilayah.
Dampak terhadap Daya Beli Masyarakat dan Ekonomi Makro
Secara makroekonomi, inflasi yang terjaga di level rendah dan stabil adalah sinyal positif bagi iklim investasi. Investor cenderung lebih percaya diri ketika tingkat inflasi berada dalam rentang target yang terukur, karena hal ini menandakan adanya kepastian ekonomi dan stabilitas nilai mata uang.
Namun, dari sisi mikro, masyarakat kelas menengah ke bawah tetap harus waspada. Meskipun inflasi hanya berada di angka 0,30 persen, akumulasi kenaikan harga dari bulan ke bulan (inflasi tahunan atau year-on-year) dapat memberikan beban tambahan pada pengeluaran rumah tangga. Jika kenaikan harga barang pokok tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan yang setara, maka daya beli masyarakat secara riil akan mengalami penurunan.
Ekonom memprediksi bahwa jika tren inflasi ini tetap stabil di bawah 1 persen per bulan, maka Bank Indonesia kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya. Kebijakan moneter yang stabil sangat diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak terhambat oleh volatilitas harga yang tidak terduga.
Peran Pemerintah dalam Pengendalian Harga
Menanggapi angka inflasi September 2026 ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian terus memperkuat langkah-langkah preventif. Langkah-langkah tersebut mencakup penguatan stok pangan nasional dan optimalisasi jalur distribusi dari produsen ke konsumen.
Beberapa langkah strategis yang sedang dijalankan pemerintah meliputi:
Operasi Pasar Murah: Melakukan intervensi langsung ke pasar-pasar tradisional untuk menyediakan komoditas pangan dengan harga terjangkau saat terjadi lonjakan harga pada item tertentu.