DWJ Manajement - PORTAL

BRIN Ungkap Dugaan Pemicu Kematian Massal Ikan di Danau Batur

Oleh: DWJ-Manajement 03 Aug 2026
BRIN Ungkap Dugaan Pemicu Kematian Massal Ikan di Danau Batur

Penurunan Kadar Oksigen (Anoxia): Tercampurnya air dasar yang miskin oksigen dengan air permukaan menyebabkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) merosot tajam di seluruh kolom air.

Toksisitas Sulfur: Konsentrasi belerang yang melonjak secara tiba-tiba menciptakan lingkungan yang beracun bagi ikan, yang menyebabkan kematian massal dalam waktu yang sangat singkat.

Dampak Ekonomi yang Menghancurkan Peternak Lokal

Kematian 25 ton ikan nila ini bukan sekadar angka statistik bagi para peneliti, melainkan sebuah tragedi ekonomi bagi masyarakat Kintamani. Danau Batur merupakan urat nadi ekonomi bagi ratusan peternak ikan nila di kawasan tersebut. Dengan hilangnya puluhan ton ikan dalam satu waktu, banyak peternak yang kini terjerat utang dan kehilangan modal kerja mereka.

Ikan nila yang mati dalam jumlah besar ini juga menimbulkan masalah sanitasi baru. Bangkai ikan yang mengapung di permukaan danau jika tidak segera ditangani dapat memicu pembusukan yang akan memperburuk kualitas air dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu pariwisata di kawasan Kintamani.

Rantai Kerugian yang Meluas

Dampak dari fenomena ini tidak berhenti pada peternak ikan saja, namun merembet ke sektor lain:

Sektor Pariwisata: Keindahan visual Danau Batur terganggu oleh pemandangan bangkai ikan, yang berpotensi menurunkan minat wisatawan berkunjung ke Kintamani.

Sektor Kuliner: Pasokan ikan nila lokal yang menjadi menu utama di banyak restoran sekitar Bali mengalami kelangkaan, yang berdampak pada kenaikan harga pangan.

Sektor Lingkungan: Upaya pembersihan bangkai ikan membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit dari pemerintah daerah.