Peningkatan Net Interest Margin (NIM): Kredit konsumer umumnya memiliki suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan KPR. Penambahan porsi kredit ini diharapkan dapat mendongkrak margin bunga bersih atau NIM perusahaan.
Cross-Selling Opportunity: Nasabah kredit konsumer dapat menjadi target potensial untuk produk perbankan lainnya, seperti tabungan, asuransi, dan layanan digital banking, yang pada akhirnya akan meningkatkan dana murah (CASA).
Efisiensi Pertumbuhan: Mengakuisisi portofolio yang sudah berjalan jauh lebih efisien dalam hal waktu dibandingkan membangun tim sales dan infrastruktur dari nol untuk segmen baru.
Memperkuat Ekosistem Perbankan Digital
Selain dari sisi pendapatan, akuisisi portofolio kredit konsumer juga akan memperkuat ekosistem digital BTN. Nasabah kredit konsumer modern umumnya adalah kelompok masyarakat produktif yang sangat bergantung pada layanan perbankan digital. Dengan menguasai portofolio ini, BTN akan memiliki lebih banyak data perilaku transaksi nasabah, yang sangat berharga untuk pengembangan produk berbasis teknologi di masa mendatang.
Data tersebut memungkinkan BTN untuk melakukan scoring kredit yang lebih akurat melalui teknologi AI dan machine learning, sehingga risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dapat ditekan seminimal mungkin sejak awal.
Tantangan dan Implementasi di Tahun Depan
Meski rencana ini terlihat sangat menjanjikan, BTN tetap harus menghadapi berbagai tantangan besar dalam proses eksekusinya. Mengakuisisi portofolio bank lain bukan sekadar memindahkan angka dari satu buku besar ke buku besar lainnya. Ada aspek kompleksitas yang harus dikelola dengan sangat hati-hati oleh manajemen.
Pertama, adalah masalah kualitas aset. BTN harus melakukan due diligence atau uji tuntas yang sangat mendalam terhadap portofolio yang akan diambil alih. Jangan sampai akuisisi ini justru menjadi "beban" di masa depan jika ternyata portofolio tersebut memiliki tingkat kredit macet yang tinggi. Penilaian terhadap profil risiko nasabah dari bank target merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar.
Kedua, integrasi sistem dan budaya kerja. Setiap bank memiliki infrastruktur teknologi informasi dan standar operasional prosedur (SOP) yang berbeda. Menyatukan data nasabah lama dengan sistem BTN memerlukan investasi teknologi yang tidak sedikit dan koordinasi yang sangat rapi agar tidak terjadi gangguan layanan bagi nasabah.