DWJ Manajement - PORTAL

Bukan Cuma EV, DBS Ungkap 3 Tren Besar yang Ubah Industri Otomotif

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
Bukan Cuma EV, DBS Ungkap 3 Tren Besar yang Ubah Industri Otomotif

2. Lokalisasi Rantai Pasok: Resiliensi di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Tren besar kedua yang menjadi sorotan adalah pergeseran strategi dari globalisasi murni menuju lokalisasi rantai pasok. Selama beberapa dekade, industri otomotif sangat bergantung pada rantai pasok global yang efisien namun sangat rentan terhadap gangguan. Pandemi COVID-19 dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara kekuatan ekonomi besar telah memberikan pelajaran pahit bagi para produsen otomotif.

Gangguan logistik dan ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu wilayah geografis tertentu (seperti ketergantungan pada pasokan komponen dari satu negara saja) telah menciptakan risiko operasional yang fatal. Akibatnya, kini muncul tren "near-shoring" atau "friend-shoring", di mana perusahaan-perusahaan otomotif berupaya memindahkan pusat produksi komponen mereka lebih dekat ke pasar utama atau ke negara-negara yang memiliki stabilitas politik yang baik.

Lokalisasi ini bertujuan untuk menciptakan resiliensi atau ketahanan industri. Dengan membangun basis produksi di wilayah pasar utama, produsen dapat:

Mengurangi biaya logistik dan waktu pengiriman.

Memitigasi risiko gangguan geopolitik dan tarif perdagangan.

Lebih cepat dalam merespons kebutuhan dan preferensi konsumen lokal.

Mendukung program pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja domestik.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, tren lokalisasi ini adalah peluang emas. Dengan kebijakan hilirisasi industri, Indonesia berupaya menarik investasi besar agar tidak hanya menjadi pasar bagi kendaraan listrik, tetapi juga menjadi pusat produksi komponen inti seperti sel baterai, yang pada akhirnya akan menempatkan Indonesia dalam rantai nilai otomotif global.

3. Pergeseran Model Bisnis: Dari Kepemilikan Menuju Mobilitas Berbasis Layanan

Tren ketiga yang tidak kalah penting adalah perubahan cara konsumen mengonsumsi jasa transportasi. Jika dulu keberhasilan sebuah perusahaan otomotif diukur dari seberapa banyak unit kendaraan yang mereka jual, di masa depan, model bisnis akan bergeser ke arah Mobility-as-a-Service (MaaS).

Generasi baru, terutama generasi milenial dan Gen Z, mulai menunjukkan kecenderungan untuk tidak lagi menitikberatkan pada kepemilikan aset pribadi. Bagi mereka, nilai utama dari sebuah kendaraan adalah fungsinya sebagai alat mobilitas yang efisien, terhubung secara digital, dan mudah diakses kapan saja. Hal ini mendorong munculnya berbagai layanan seperti berbagi kendaraan (car-sharing), penyewaan jangka pendek berbasis aplikasi, hingga layanan langganan kendaraan (subscription model).