DWJ Manajement - PORTAL

Bukan Gen Z dan Gen Alpha, Ini Generasi yang Jadi Raja Keuangan RI

Oleh: DWJ-Manajement 11 Aug 2026
Bukan Gen Z dan Gen Alpha, Ini Generasi yang Jadi Raja Keuangan RI

Regulasi yang Progresif: Langkah pemerintah dan otoritas jasa keuangan dalam memperketat pengawasan serta memperluas program sosialisasi ke pelosok daerah.

Kesadaran Pasca-Pandemi: Pengalaman ekonomi di masa sulit sebelumnya telah mengubah pola pikir masyarakat untuk lebih mementingkan dana darurat dan asuransi.

Mengenal Generasi "Raja Keuangan" Indonesia

Lantas, siapa sebenarnya generasi yang dimaksud? Data menunjukkan bahwa kelompok Milenial dan Gen X menjadi motor penggerak utama di balik angka 69,57% tersebut. Meskipun Gen Z sangat mahir menggunakan perangkat teknologi, dalam hal kedalaman pemahaman mengenai instrumen investasi yang kompleks, manajemen aset, dan mitigasi risiko keuangan, generasi yang lebih dewasa masih memimpin jauh di depan.

Milenial, yang saat ini berada di usia produktif puncak, menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat dalam melakukan diversifikasi aset. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan tabungan konvensional, tetapi sudah mulai merambah ke pasar modal, reksadana, hingga instrumen emas dan properti secara lebih terstruktur.

Sementara itu, Gen X menunjukkan stabilitas dalam hal pengelolaan arus kas dan proteksi keuangan. Mereka memiliki pengalaman hidup yang lebih panjang dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi, yang secara otomatis membentuk intuisi finansial yang lebih tajam dibandingkan generasi di bawahnya.

Mengapa Gen Z dan Gen Alpha Belum Menjadi Pemimpin?

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa Gen Z dan Gen Alpha belum mampu mendominasi lanskap literasi keuangan ini? Para ahli ekonomi memberikan beberapa catatan penting terkait hal ini. Pertama, terdapat celah antara "kemampuan menggunakan teknologi" dengan "pemahaman konsep keuangan". Gen Z mungkin sangat cepat bertransaksi menggunakan dompet digital atau e-wallet, namun sering kali mereka belum memahami dampak bunga majemuk atau risiko tersembunyi dari layanan paylater.

Kedua, budaya konsumerisme yang didorong oleh tren media sosial sering kali membuat generasi muda terjebak dalam perilaku belanja impulsif. Fenomena fear of missing out (FOMO) sering kali mengalahkan logika perencanaan keuangan jangka panjang. Hal ini menciptakan paradoks di mana mereka sangat inklusif (menggunakan banyak produk keuangan), namun tingkat literasinya (pemahaman mendalam) masih perlu ditingkatkan agar tidak terjebak dalam jeratan hutang yang tidak produktif.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Literasi dan Inklusi