```html
Calon Gubernur BI Destry Damayanti: Pengendalian Inflasi Bukan Hanya Tugas Bank Indonesia
JAKARTA - Dinamika ekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian menuntut penguatan koordinasi antarlembaga dalam menjaga stabilitas harga di Indonesia. Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa upaya pengendalian inflasi tidak dapat dibebankan hanya kepada Bank Indonesia semata. Menurutnya, stabilitas harga merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara kebijakan moneter yang dijalankan oleh bank sentral dan kebijakan fiskal serta sektor riil yang dikelola oleh pemerintah.
Pernyataan Destry ini muncul di tengah perhatian publik terhadap berbagai tekanan inflasi yang bersumber dari sektor-sektor krusial. Ia menekankan bahwa meskipun BI memiliki instrumen untuk mengendalikan inflasi melalui kebijakan suku bunga, terdapat variabel-variabel ekonomi lain yang berada di luar kendali langsung bank sentral, namun memiliki dampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.
Sinergi Moneter dan Fiskal: Kunci Stabilitas Makroekonomi
Dalam sistem ekonomi modern, inflasi sering kali dipicu oleh berbagai faktor yang kompleks. Destry menjelaskan bahwa kebijakan moneter, seperti penyesuaian suku bunga acuan (BI Rate), berfungsi sebagai instrumen untuk mengelola ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, instrumen ini bersifat "makro" dan membutuhkan waktu untuk tersalurkan ke sektor riil.
Di sisi lain, pemerintah memegang kendali atas kebijakan fiskal dan intervensi langsung di pasar. Destry menyoroti bahwa jika terjadi gangguan pada rantai pasok atau lonjakan harga komoditas tertentu, kebijakan moneter saja tidak akan cukup efektif untuk meredam gejolak tersebut. Di sinilah pentingnya peran pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas distribusi barang.
Menurutnya, koordinasi yang harmonis antara Bank Indonesia dan pemerintah akan menciptakan bantalan ekonomi yang lebih kuat. Tanpa dukungan kebijakan dari sisi suplai dan fiskal, kebijakan moneter yang ketat justru berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi tanpa memberikan dampak signifikan pada penurunan inflasi jika penyebabnya adalah gangguan distribusi atau kelangkaan barang.
Tantangan Utama: Inflasi Pangan dan Volatilitas Harga Komoditas
Salah satu fokus utama yang disoroti oleh Destry Damayanti adalah komponen volatile food atau inflasi bahan pangan yang mudah bergejolak. Di Indonesia, fluktuasi harga pangan seperti beras, cabai, bawang, dan komoditas lainnya sering kali menjadi pemicu utama kenaikan inflasi tahunan (year-on-year).
Destry menekankan bahwa masalah pangan umumnya bukan disebabkan oleh kelebihan jumlah uang yang beredar (moneter), melainkan masalah teknis di lapangan, seperti:
Gangguan Rantai Pasok: Kendala distribusi dari daerah produsen ke daerah konsumen yang sering terkendala infrastruktur atau cuaca.