Skenario moderat atau base case merupakan kondisi di mana pasar bergerak sesuai dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi rata-rata. Dalam skenario ini, IHSG tidak langsung melesat ke angka 8.000, melainkan bergerak naik secara perlahan dengan volatilitas yang terkendali. Pertumbuhan ini didorong oleh:
Kinerja emiten yang tumbuh stabil namun tidak mengalami lonjakan laba yang eksponensial.
Inflasi yang terjaga dalam rentang target sasaran Bank Indonesia.
Arus modal asing yang masuk secara moderat, tidak terlalu masif namun tetap konsisten menjaga stabilitas indeks.
3. Skenario Pesimis (Bearish Case): Tantangan Global dan Risiko Resesi
CIMB Niaga juga mengingatkan adanya risiko jika kondisi dunia memburuk. Skenario pesimis ini dapat terjadi apabila muncul guncangan yang tidak terduga (black swan event). Faktor-faktor yang dapat memicu skenario ini meliputi:
Eskalasi Geopolitik: Konflik di berbagai belahan dunia yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasok global dan memicu lonjakan harga energi.
Resesi Global: Jika negara-negara ekonomi maju mengalami kontraksi ekonomi yang dalam, hal ini akan berdampak pada penurunan permintaan ekspor Indonesia.
Suku Bunga Tinggi yang Berkepanjangan: Jika inflasi global sulit ditekan, kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) akan menekan pertumbuhan kredit dan daya beli masyarakat.
Faktor Kunci yang Menentukan Arah IHSG 2026
Untuk memahami mengapa CIMB Niaga begitu optimis dengan potensi level 8.000, kita perlu membedah variabel-variabel ekonomi yang menjadi penggerak utama pasar modal. Ada beberapa elemen krusial yang akan menjadi penentu apakah Indonesia akan mengambil jalur optimis atau justru terjebak dalam skenario pesimis.
Kebijakan Suku Bunga dan Likuiditas Global