Wilayah IX: Kawasan daratan di bagian selatan Pulau Papua.
Wilayah X: Area sekitar perbatasan wilayah administratif di Sumatera Selatan.
Wilayah XI: Sebagian wilayah perairan di sekitar Selat Sunda.
Wilayah XII: Kawasan pegunungan di bagian tengah Sulawesi.
Wilayah XIII: Wilayah pesisir utara Pulau Kalimantan.
Wilayah XIV: Area transisi di bagian selatan Pulau Bali.
Wilayah XV: Sebagian kecil wilayah di Kepulauan Riau.
Wilayah XVI: Area daratan di bagian barat Pulau Sulawesi.
Catatan: Masyarakat diharapkan melakukan pengecekan kembali secara spesifik berdasarkan kabupaten/kota masing-masing melalui kanal resmi BMKG, mengingat cakupan wilayah hujan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan angin.
Mengapa Hujan Lokal Tetap Terjadi?
Fenomena hujan lokal di tengah musim kemarau atau pengaruh El Niño sering kali disebabkan oleh faktor-faktor meteorologis spesifik. Berikut adalah beberapa faktor yang memicu hal tersebut:
1. Pemanasan Suhu Permukaan Laut
Meskipun El Niño menyebabkan suhu udara cenderung lebih panas, suhu permukaan laut di beberapa perairan Indonesia tetap hangat. Kehangatan ini memicu penguapan yang tinggi ke atmosfer, yang kemudian menjadi bahan baku pembentukan awan hujan.
2. Konveksi Lokal
Pemanasan permukaan daratan yang ekstrem di siang hari dapat menyebabkan udara naik dengan cepat (konveksi). Jika kelembapan udara di lapisan tengah atmosfer mencukupi, maka awan Cumulonimbus dapat terbentuk secara mendadak dan mengakibatkan hujan deras disertai petir.
3. Interaksi Topografi