DWJ Manajement - PORTAL

Danantara Siapkan Rp44,5 Triliun untuk Garap Bisnis Daging Asia

Oleh: DWJ-Manajement 08 Aug 2026
Danantara Siapkan Rp44,5 Triliun untuk Garap Bisnis Daging Asia

Danantara Gebrak Pasar Global, Siapkan Rp44,5 Triliun untuk Kuasai Bisnis Protein Asia

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melakukan langkah ambisius dalam peta persaingan ekonomi global. Lembaga investasi strategis ini dilaporkan tengah menyiapkan dana fantastis sebesar US$2,5 miliar atau setara dengan Rp44,5 triliun untuk merambah industri protein dunia melalui kemitraan strategis dengan raksasa pengolahan daging global, JBS NV.

Langkah ini menandai era baru bagi Danantara dalam memposisikan diri sebagai pemain kunci di pasar komoditas pangan internasional. Melalui skema joint venture, Danantara tidak hanya sekadar menanamkan modal, tetapi juga berupaya mengamankan rantai pasok protein hewani yang mencakup wilayah strategis di Asia Tenggara, Australia, hingga Selandia Baru.

Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk protein berkualitas tinggi, seiring dengan pertumbuhan populasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat di kawasan Asia. Dengan menggandeng JBS NV, salah satu perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia, Danantara diprediksi akan memiliki daya tawar yang sangat kuat dalam menguasai pasar dari hulu ke hilir.

Investasi Jumbo US$2,5 Miliar untuk Dominasi Pasar Protein

Kesepakatan investasi senilai Rp44,5 triliun ini diproyeksikan akan mengubah lanskap industri daging di kawasan Asia-Pasifik. Fokus utama dari kerja sama ini adalah pembentukan entitas bisnis baru yang akan mengelola seluruh ekosistem produksi, pemrosesan, hingga distribusi produk protein di pasar-pasar potensial.

Menurut sumber internal, dana besar tersebut akan dialokasikan untuk beberapa sektor krusial, di antaranya:

Pengembangan Infrastruktur Produksi: Membangun fasilitas pemrosesan daging modern yang memenuhi standar keamanan pangan internasional.

Penguatan Rantai Pasok: Mengintegrasikan sumber bahan baku dari Australia dan Selandia Baru dengan pusat distribusi di Asia Tenggara.

Teknologi Pangan: Implementasi teknologi mutakhir untuk menjaga kualitas nutrisi dan efisiensi distribusi produk protein.

Ekspansi Jaringan Logistik: Membangun jalur distribusi yang lebih cepat dan efisien untuk menjangkau konsumen di pasar berkembang.