Melihat kembali masa lalu Hui Ka Yan, sulit dipercaya bahwa pria yang kini mendekam di penjara tersebut dulunya hanyalah seorang teknisi biasa. Perjalanannya adalah sebuah narasi klasik tentang "American Dream" versi Asia, di mana kerja keras dan keberanian mengambil risiko membawa seseorang ke puncak dunia.
Awal Mula Imperium Evergrande
Hui Ka Yan memulai kariernya di industri manufaktur sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun ke sektor properti pada tahun 1996. Dengan modal yang terbatas namun memiliki visi ekspansi yang sangat agresif, ia mendirikan Evergrande di Guangzhou. Pada masa itu, ekonomi China sedang mengalami pertumbuhan pesat, dan kebutuhan akan hunian serta infrastruktur baru melonjak tajam.
Ia memanfaatkan momentum tersebut dengan melakukan strategi akuisisi lahan secara masif. Evergrande tidak hanya membangun apartemen, tetapi juga merambah ke sektor lain seperti kendaraan listrik, layanan keuangan, hingga pengelolaan air. Strategi diversifikasi ini sempat membuat Evergrande tampak seperti perusahaan yang tidak terkalahkan.
Era Keemasan dan Ekspansi Tanpa Batas
Selama lebih dari dua dekade, Hui Ka Yan berhasil membangun kekaisaran properti yang mencakup ribuan proyek di seluruh penjuru China. Nama Evergrande menjadi sinonim dengan kemewahan dan pertumbuhan. Keberhasilan ini mengantarkannya masuk ke dalam jajaran orang terkaya di dunia versi majalah Forbes dan Bloomberg.
Namun, di balik kemegahan gedung-gedung pencakar langit yang dibangunnya, terdapat fondasi yang sangat rapuh. Keberhasilan Evergrande sangat bergantung pada utang yang menumpuk. Perusahaan ini menggunakan strategi leverage yang ekstrem—meminjam uang dalam jumlah besar untuk terus membeli lahan dan memulai proyek baru, dengan harapan harga properti akan terus naik selamanya.
Pemicu Keruntuhan: Bom Waktu Utang Evergrande
Kehancuran Evergrande tidak terjadi dalam semalam. Hal ini adalah hasil dari akumulasi utang yang tidak terkendali yang akhirnya meledak ketika kebijakan pemerintah China berubah secara drastis. Krisis ini menjadi salah satu krisis utang korporasi terbesar dalam sejarah modern.
Ada beberapa faktor kunci yang menyebabkan runtuhnya imperium milik Hui Ka Yan:
Kebijakan "Three Red Lines": Pemerintah China memperkenalkan kebijakan ketat untuk membatasi kemampuan pengembang properti dalam mengambil utang baru. Hal ini secara langsung memutus aliran kas Evergrande yang selama ini bergantung pada pinjaman.
Krisis Likuiditas: Akibat tidak bisa lagi meminjam uang untuk menutupi utang lama, Evergrande mengalami gagal bayar (default) pada obligasi internasionalnya.
Penurunan Kepercayaan Pasar: Ketika isu gagal bayar mencuat, investor dan pembeli rumah mulai menarik diri, menyebabkan stagnasi pada penjualan proyek-proyek Evergrande.