DWJ Manajement - PORTAL

Desil Dinilai Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Ini Respons Airlangga

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Desil Dinilai Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Ini Respons Airlangga

Polemik Klasifikasi Desil Ekonomi Tak Sesuai Realita, Ini Respons Tegas Airlangga Hartarto

Ketidaksesuaian antara data statistik dan kondisi riil di lapangan memicu kritik tajam masyarakat terkait akurasi penyaluran bantuan sosial dan klasifikasi kesejahteraan.

Belakangan ini, diskursus mengenai klasifikasi ekonomi masyarakat atau yang dikenal dengan istilah "desil" tengah menjadi sorotan hangat di tengah masyarakat. Banyak pihak, mulai dari pengamat ekonomi hingga lapisan masyarakat akar rumput, menyuarakan keresahan bahwa pengelompokan tingkat kesejahteraan berdasarkan desil saat ini dianggap tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi riil yang dialami oleh banyak keluarga di Indonesia.

Keresahan ini muncul ketika banyak warga yang secara ekonomi merasa sangat terhimpit oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup, namun dalam data pemerintah, mereka justru masuk dalam kategori kelas menengah atau bahkan kategori yang tidak berhak menerima bantuan sosial (bansos). Kondisi inilah yang memicu perdebatan mengenai efektivitas dan akurasi data yang digunakan pemerintah dalam menentukan target intervensi kebijakan ekonomi.

Airlangga Hartarto Tanggapi Keresahan Masyarakat Terkait Data Desil

Menanggapi polemik yang berkembang tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan respons terkait validitas dan dinamika data desil ekonomi di Indonesia. Airlangga menyadari adanya persepsi di masyarakat yang merasa terdapat celah antara angka-angka statistik yang dirilis dengan kenyataan pahit yang dirasakan di lapangan.

Dalam penjelasannya, Airlangga menekankan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap dinamika ekonomi yang sangat cepat berubah. Menurutnya, klasifikasi ekonomi bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan sebuah potret yang diambil pada waktu tertentu berdasarkan indikator-indikator ekonomi yang telah ditetapkan secara ilmiah oleh lembaga terkait, seperti Badan Pusat Statistik (BPS).

Airlangga juga mengisyaratkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap adanya anomali data. Ia menjelaskan bahwa sinkronisasi data antarlembaga menjadi kunci utama agar kebijakan yang diambil, terutama yang berkaitan dengan perlindungan sosial, dapat menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Mengapa Terjadi Ketimpangan antara Data Desil dan Realita Ekonomi?

Untuk memahami mengapa terjadi perbedaan antara persepsi masyarakat dengan data desil, penting untuk melihat bagaimana mekanisme klasifikasi tersebut bekerja. Secara teknis, desil adalah pembagian populasi menjadi sepuluh kelompok yang sama besar berdasarkan tingkat pengeluaran atau pendapatan. Namun, dalam praktiknya, terdapat beberapa faktor kompleks yang menyebabkan "ketidaksesuaian" tersebut:

Dinamika Inflasi dan Daya Beli: Kenaikan harga barang kebutuhan pokok secara tiba-tiba dapat menurunkan daya beli masyarakat secara drastis, meskipun pendapatan nominal mereka tetap. Hal ini seringkali tidak langsung terekam dalam pembaruan data desil yang biasanya dilakukan secara periodik.

Pergeseran Kelas Menengah: Fenomena "menengah yang rentan" menjadi isu krusial. Banyak keluarga yang secara administratif masuk dalam desil menengah, namun secara finansial mereka sangat rentan terhadap guncangan ekonomi seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan yang mendadak.