DWJ Manajement - PORTAL

Desil Dinilai Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Ini Respons Airlangga

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Desil Dinilai Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Ini Respons Airlangga

Ketidakakuratan Data Mikro: Masalah klasik dalam pendataan adalah adanya perbedaan antara data administratif (seperti KTP atau status pekerjaan) dengan kondisi ekonomi aktual di tingkat rumah tangga.

Efek Pandemi dan Pasca-Pandemi: Pemulihan ekonomi yang tidak merata menciptakan kelompok masyarakat yang secara statistik terlihat sudah pulih, namun secara struktur pengeluaran masih sangat berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Pentingnya Akurasi Desil dalam Penyaluran Bantuan Sosial

Ketidakakuratan dalam penetapan desil bukan sekadar masalah angka di atas kertas. Dampak nyatanya sangat krusial, terutama dalam hal distribusi bantuan sosial (bansos) dan subsidi pemerintah. Jika klasifikasi desil meleset, maka akan terjadi dua masalah besar yang merugikan negara dan masyarakat:

Kesalahan Sasaran (Inclusion Error): Kondisi di mana masyarakat yang secara ekonomi mampu justru terdaftar sebagai penerima bantuan. Hal ini menyebabkan pemborosan anggaran negara dan hilangnya kesempatan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Ketidakterjangkauan Sasaran (Exclusion Error): Kondisi di mana masyarakat miskin atau sangat rentan justru tidak terdata dalam kategori desil bawah karena kesalahan administratif atau ketiadaan akses terhadap sistem pendataan. Hal ini sangat mencederai rasa keadilan sosial.

Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan kementerian terkait lainnya, terus berupaya memperbaiki sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Integrasi data antar kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menjadi prioritas untuk memastikan bahwa klasifikasi desil benar-benar merepresentasikan kemiskinan dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Tantangan Digitalisasi Pendataan Ekonomi

Di era digital ini, pemerintah sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan pemutakhiran data secara real-time. Penggunaan teknologi big data dan kecerdasan buatan dapat membantu mengidentifikasi pola pengeluaran dan konsumsi masyarakat secara lebih presisi. Namun, tantangan besar masih membayangi, mulai dari masalah privasi data hingga kesenjangan infrastruktur digital di berbagai wilayah Indonesia.

Airlangga Hartarto dalam berbagai kesempatan juga menekankan pentingnya kolaborasi. Pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri; peran pemerintah daerah dalam melakukan verifikasi dan validasi data di tingkat desa atau kelurahan sangat menentukan apakah seorang warga layak masuk ke dalam desil tertentu atau tidak.