BI Borong SBN Rp 195,25 Triliun hingga Juli 2026, Destry Damayanti: Upaya Menjaga Stabilitas Ekonomi
Langkah strategis diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional melalui intervensi pasar yang signifikan.
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan memastikan ketersediaan likuiditas di pasar domestik. Penjabat (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa hingga akhir Juli 2026, Bank Indonesia telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai mencapai Rp 195,25 triliun.
Langkah masif ini merupakan bagian dari kebijakan moneter Bank Indonesia untuk memastikan bahwa kondisi pasar keuangan tetap kondusif, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Pembelian SBN ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung pembiayaan pemerintah, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan imbal hasil (yield) surat utang negara agar tetap dalam rentang yang wajar.
Penjagaan Likuiditas sebagai Prioritas Utama Bank Indonesia
Dalam keterangannya, Destry Damayanti menekankan bahwa fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah memastikan likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga. Likuiditas yang cukup sangat krusial bagi perbankan dan pelaku pasar lainnya untuk menjalankan aktivitas ekonomi, mulai dari penyaluran kredit hingga transaksi pasar uang.
Tanpa likuiditas yang memadai, pasar keuangan dapat mengalami guncangan, yang pada akhirnya akan berdampak pada biaya pinjaman (cost of fund) yang lebih tinggi bagi sektor riil. Dengan melakukan pembelian SBN dalam skala besar, BI secara efektif menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan nasional.
Mengelola Volatilitas Pasar Keuangan
Dinamika pasar keuangan global, yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral dunia seperti The Fed, seringkali menciptakan tekanan pada pasar keuangan domestik. Tekanan ini biasanya termanifestasi dalam bentuk keluarnya aliran modal asing (capital outflow) yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan yield SBN secara tajam.
Melalui pembelian SBN sebesar Rp 195,25 triliun tersebut, Bank Indonesia berperan sebagai market maker yang efektif. Langkah ini diambil untuk meredam volatilitas yang berlebihan sehingga pasar tidak bereaksi secara ekstrem terhadap sentimen global. Dengan stabilitas yang terjaga, kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan domestik pun dapat dipertahankan.
Mengapa Pembelian SBN Sangat Krusial bagi Ekonomi Nasional?