Manajemen Irigasi yang Efektif: Petani menggunakan teknik pengaturan debit air yang sangat ketat. Mereka tidak membiarkan air mengalir terus-menerus, melainkan menggunakan sistem pengairan teratur sesuai kebutuhan fase pertumbuhan padi, sehingga penggunaan air menjadi sangat efisien.
Pemilihan Varietas Benih Unggul: Penggunaan varietas padi yang memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap cekaman kekeringan (drought-tolerant) menjadi kunci utama. Benih-benih ini dirancang untuk tetap produktif meskipun dalam kondisi ketersediaan air yang terbatas.
Pemantauan Kualitas Tanah: Mengingat lokasinya yang berada di pesisir, petani sangat memperhatikan kadar salinitas tanah. Pengolahan lahan yang tepat membantu menjaga keseimbangan nutrisi dan mencegah tanah menjadi terlalu asin yang dapat menghambat pertumbuhan padi.
Pemanfaatan Kalender Tanam yang Adaptif: Petani di Sungai Tiram cenderung lebih responsif terhadap perubahan cuaca. Mereka menyesuaikan waktu tanam dengan ketersediaan air yang ada, sehingga masa panen jatuh pada saat ketersediaan stok air masih cukup untuk menopang pertumbuhan tanaman hingga fase pengisian bulir.
Ancaman Nyata terhadap Lahan Pertanian Pesisir
Meskipun saat ini kita melihat keberhasilan panen, masa depan lahan pertanian di pesisir Jakarta tidaklah tanpa bayang-bayang ancaman. Ada dua ancaman besar yang terus membayangi eksistensi sawah-sawah di Marunda ini, yakni alih fungsi lahan dan perubahan iklim yang ekstrem.
Pertama, tekanan urbanisasi dan pembangunan infrastruktur di Jakarta Utara sangatlah masif. Seiring dengan kebutuhan akan lahan industri, pergudangan, dan pemukiman, lahan-lahan hijau seperti sawah di Marunda seringkali menjadi incaran pengembang. Jika tidak ada regulasi yang kuat untuk melindungi lahan pertanian produktif, maka "oase hijau" ini bisa hilang dalam hitungan tahun, digantikan oleh bangunan beton yang semakin memperparah efek pulau panas (urban heat island) di Jakarta.
Kedua, ancaman kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta Utara. Sebagai kawasan pesisir, sawah di Marunda rentan terhadap banjir rob. Jika intensitas banjir rob meningkat seiring dengan perubahan iklim global, maka salinitas tanah akan meningkat drastis, yang pada akhirnya dapat merusak struktur tanah dan membuat lahan tidak lagi layak untuk ditanami padi.