Simon Aloysius Mantiri dalam laporannya kepada Presiden menekankan bahwa kesiapan infrastruktur menjadi kunci utama. Pertamina berkomitmen untuk memastikan bahwa proses pencampuran (blending) dan distribusi B50 dapat berjalan tanpa mengganggu kualitas performa mesin kendaraan konsumen.
Persiapan Bioetanol: Diversifikasi Bahan Bakar Nabati untuk Sektor Gasoline
Tidak hanya berhenti pada sektor diesel, Pertamina juga tengah mematangkan persiapan untuk sektor bahan bakar bensin (gasoline) melalui pengembangan bioetanol. Jika B50 menyasar sektor diesel, bioetanol diproyeksikan akan menjadi campuran dalam produk-produk bahan bakar seperti Pertamax dan varian lainnya.
Pengembangan bioetanol di Indonesia dipandang sebagai langkah penting untuk menciptakan keseimbangan dalam portofolio energi nabati. Selama ini, fokus utama pengembangan bahan bakar nabati Indonesia memang sangat dominan pada sektor CPO (Crude Palm Oil). Dengan masuknya bioetanol, diversifikasi bahan baku menjadi lebih luas.
Rencana Pengembangan Bahan Baku Bioetanol
Dalam diskusi tersebut, dibahas pula mengenai potensi bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi bioetanol di Indonesia. Beberapa opsi yang tengah dikaji meliputi:
Tetes Tebu (Molasses): Memanfaatkan produk sampingan dari industri gula nasional.
Jagung dan Singkong: Mengoptimalkan komoditas pertanian pangan sebagai sumber karbohidrat untuk fermentasi alkohol.
Limbah Pertanian: Mengembangkan teknologi generasi kedua (second-generation ethanol) yang memanfaatkan limbah selulosa untuk menjaga ketahanan pangan.
Integrasi bioetanol ke dalam rantai pasok BBM nasional diharapkan dapat meningkatkan angka oktan (RON) secara alami, sehingga kualitas pembakaran pada mesin kendaraan menjadi lebih efisien dan emisi gas buang dapat diminimalisir.