Optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE)
Salah satu "jurus" yang terus ditekankan oleh Airlangga adalah optimalisasi penerimaan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Pemerintah terus mendorong para eksportir, terutama di sektor komoditas unggulan seperti batubara, minyak sawit (CPO), dan nikel, untuk menempatkan devisa hasil ekspor mereka di dalam negeri dalam jangka waktu tertentu. Dengan meningkatnya ketersediaan pasokan Dolar di pasar domestik melalui DHE, maka tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dapat dikurangi secara alami.
Beberapa langkah konkret terkait pengelolaan devisa antara lain:
Memperkuat regulasi mengenai kewajiban penggunaan Rupiah dalam transaksi domestik.
Memberikan insentif bagi eksportir yang melakukan repatriasi devisa ke sistem perbankan nasional.
Mempermudah akses likuiditas bagi pelaku usaha yang membutuhkan valuta asing untuk kepentingan produksi.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Sektor Riil
Mendekati level Rp 18.000 per Dolar AS bukanlah angka yang bisa disepelekan. Pelemahan Rupiah memiliki efek domino yang luas terhadap struktur ekonomi Indonesia. Sektor industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor (import-dependent industries) akan menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
Ketika nilai impor menjadi lebih mahal karena melemahnya Rupiah, maka biaya produksi (cost of production) akan melonjak. Jika produsen tidak mampu menyerap kenaikan biaya tersebut, maka pilihan terakhir adalah menaikkan harga jual produk ke konsumen. Hal inilah yang kemudian berpotensi memicu inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli masyarakat.
Beberapa sektor yang perlu diwaspadai meliputi: