DWJ Manajement - PORTAL

Dolar AS Diramal Masih Rp 18.000 Sampai Akhir Tahun, Setelah Itu?

Oleh: DWJ-Manajement • 29 Sep 2026
Dolar AS Diramal Masih Rp 18.000 Sampai Akhir Tahun, Setelah Itu?

Pertanyaan besar yang muncul di benak para pelaku pasar adalah: jika hingga akhir tahun Rupiah tertahan di Rp 18.000, apa yang akan terjadi setelah itu? Apakah akan terjadi pemulihan (rebound) atau justru depresiasi lebih lanjut?

Proyeksi untuk tahun mendatang sangat bergantung pada dua hal: pemulihan ekonomi global dan pergeseran siklus moneter di Amerika Serikat. Jika pada tahun 2025 The Fed benar-benar memulai siklus penurunan suku bunga secara agresif, maka tekanan terhadap Dolar AS akan berkurang. Dalam skenario ini, aliran modal akan kembali masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets), yang dapat memberikan ruang bagi Rupiah untuk menguat kembali ke level yang lebih rendah.

Skenario Optimis dan Pesimis

Para analis membagi kemungkinan masa depan menjadi dua skenario utama:

Skenario Optimis: Terjadi normalisasi kebijakan moneter global, inflasi AS terkendali, dan ekonomi domestik Indonesia tumbuh stabil di atas 5%. Hal ini akan mendorong Rupiah kembali ke level Rp 15.500 - Rp 16.500 pada pertengahan 2025.

Skenario Pesimis: Ketegangan geopolitik meningkat, inflasi AS kembali melonjak, dan terjadi perlambatan ekonomi global yang parah. Dalam kondisi ini, Dolar AS bisa tetap kuat dan Rupiah berisiko menembus level Rp 18.500 atau lebih.

Kesimpulan

Prediksi bahwa Dolar AS akan tetap berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun merupakan refleksi dari kuatnya fundamental ekonomi Amerika Serikat dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed. Meskipun memberikan tekanan terhadap inflasi dan biaya impor di Indonesia, stabilitas di level tersebut sebenarnya memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk melakukan perencanaan keuangan.

Kunci keberhasilan ekonomi Indonesia ke depan terletak pada kemampuan Bank Indonesia dalam mengelola volatilitas serta kemampuan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi inflasi impor. Investor dan pelaku bisnis disarankan untuk tetap waspada terhadap dinamika data ekonomi AS yang dirilis setiap bulannya, karena hal tersebut akan menjadi kompas utama pergerakan Rupiah di masa mendatang.