```html
DPR Desak Kepastian Kurs Rupiah, Calon Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Tantangan Berat Rp16.500/US$
Uji Kelayakan Calon Gubernur BI: Stabilitas Nilai Tukar Jadi Sorotan Utama Komisi XI DPR RI
JAKARTA - Proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, di Komisi XI DPR RI memanas. Salah satu isu paling krusial yang menjadi sorotan tajam para legislator adalah mengenai proyeksi dan strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam rapat kerja yang berlangsung intens tersebut, sejumlah anggota DPR RI melontarkan pertanyaan kritis terkait potensi pelemahan rupiah. Anggota dewan mengungkit angka psikologis Rp16.500 per dolar AS yang sempat menjadi kekhawatiran pasar. Pertanyaan ini bukan sekadar angka, melainkan ujian bagi Destry untuk membuktikan kemampuannya dalam mengelola kebijakan moneter di tengah badai ketidakpastian ekonomi global.
Destry Damayanti, yang merupakan sosok berpengalaman di dunia keuangan, merespons tantangan tersebut dengan memberikan penjelasan komprehensif. Ia tidak memberikan janji manis berupa angka pasti, melainkan menekankan pada pentingnya koordinasi kebijakan dan kesiapan menghadapi volatilitas yang sangat tinggi.
Polemik Target Kurs: Antara Realitas Pasar dan Stabilitas Moneter
Ketegangan di ruang rapat Komisi XI bermula ketika anggota dewan mempertanyakan sejauh mana Bank Indonesia mampu melakukan intervensi jika rupiah benar-benar tertekan hingga menembus level Rp16.500 per dolar AS. Bagi DPR, nilai tukar adalah instrumen vital yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, harga barang impor, hingga beban utang luar negeri pemerintah.
Destry menjelaskan bahwa menetapkan satu angka target kurs yang kaku di tengah kondisi ekonomi dunia yang dinamis adalah hal yang berisiko. Menurutnya, fokus utama Bank Indonesia bukanlah "mematok" angka, melainkan menjaga stabilitas agar fluktuasi tidak terjadi secara liar yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi riil.
Dalam penjelasannya, Destry menggarisbawahi bahwa mencapai stabilitas di level tertentu membutuhkan sinergi yang kuat. Ia menyebutkan beberapa tantangan fundamental yang membuat target kurs menjadi sangat kompleks, di antaranya:
Kebijakan Moneter Amerika Serikat: Keputusan Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga tetap menjadi faktor eksternal utama yang mendikte arah aliran modal global (capital flow).
Ketegangan Geopolitik: Konflik di berbagai belahan dunia menciptakan ketidakpastian yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Sentimen Pasar Global: Pergerakan spekulatif di pasar valuta asing seringkali tidak terduga dan dapat memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets).