Capital Outflow: Investor asing menarik modalnya dari pasar keuangan Indonesia (pasar saham dan obligasi) untuk dipindahkan ke Amerika Serikat.
Meningkatnya Permintaan Dolar: Semakin banyak orang yang membutuhkan dolar untuk berinvestasi di AS, maka nilai dolar akan semakin mahal terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Tekanan pada Suku Bunga Domestik: Bank Indonesia seringkali terpaksa harus ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset rupiah, yang di sisi lain dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik karena biaya pinjaman yang meningkat.
2. Ketidakpastian Geopolitik Global
Faktor kedua adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Konflik yang terjadi di Timur Tengah, ketegangan di Eropa Timur, hingga persaingan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah menciptakan iklim investasi yang penuh kecemasan.
Dalam situasi ketidakpastian global yang tinggi, investor cenderung mengambil sikap "risk-off". Artinya, mereka akan menghindari aset-aset berisiko tinggi yang biasanya ada di negara-negara berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset yang dianggap sebagai safe haven (pelabuhan aman). Dolar AS secara historis merupakan instrumen safe haven utama dunia. Ketika konflik pecah atau tensi politik memuncak, permintaan terhadap dolar AS melonjak drastis, yang secara otomatis akan menekan nilai mata uang negara-negara lain, termasuk rupiah.
Ketidakstabilan geopolitik ini juga berisiko mengganggu rantai pasok global dan harga komoditas energi. Jika harga minyak dunia melonjak akibat konflik, defisit transaksi berjalan Indonesia dapat melebar, yang pada akhirnya akan semakin memperlemah posisi rupiah.
3. Dinamika Ekonomi Global dan Resiliensi AS
Faktor ketiga berkaitan dengan perbedaan kecepatan pertumbuhan ekonomi antara Amerika Serikat dengan negara-negara lainnya. Hingga saat ini, ekonomi Amerika Serikat menunjukkan resiliensi atau ketahanan yang jauh lebih kuat dibandingkan banyak negara maju lainnya. Pertumbuhan ekonomi AS yang tetap solid di tengah suku bunga tinggi memberikan sinyal bahwa ekonomi mereka mampu menahan beban tersebut.