Dalam kacamata makro, angka-angka pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan tetap berada pada koridor yang sehat. Para ekonom melihat bahwa kebijakan struktural yang diambil pemerintah saat ini sedang dalam proses membuahkan hasil yang akan terlihat lebih nyata di paruh kedua tahun 2026.
Perspektif Data vs Realitas Lapangan
Ketidaksesuaian ini sering kali terjadi karena adanya perbedaan variabel yang digunakan untuk mengukur "kesehatan" ekonomi. Ekonom menggunakan variabel agregat seperti Produk Domestik Bruto (PDB), neraca perdagangan, dan cadangan devisa. Sementara itu, publik menggunakan variabel mikro seperti harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, harga energi, dan kemudahan mendapatkan lapangan kerja.
Akar Pesimisme Publik: Tekanan pada Kantong Rakyat
Jika para ekonom berbicara tentang angka pertumbuhan, maka publik berbicara tentang daya beli. Survei tersebut menunjukkan bahwa masyarakat cenderung merasa kondisi ekonomi mereka tidak seindah angka statistik yang dirilis pemerintah. Pesimisme ini bukan sekadar persepsi tanpa dasar, melainkan refleksi dari tekanan ekonomi yang dirasakan langsung di tingkat rumah tangga.
Ada beberapa alasan fundamental mengapa sentimen publik justru semakin terpuruk:
Erosi Daya Beli: Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok (volatile foods) yang tidak selalu sebanding dengan kenaikan pendapatan riil membuat masyarakat merasa semakin terhimpit.
Fenomena Middle-Class Squeeze: Kelompok kelas menengah kini berada dalam posisi yang rentan. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial, namun tidak cukup kaya untuk mengabaikan kenaikan biaya hidup yang terus merangkak naik.
Ketidakpastian Lapangan Kerja: Meskipun angka pengangguran secara statistik mungkin menurun, kualitas lapangan kerja dan upah yang diterima seringkali dianggap tidak mencukupi untuk menutupi inflasi gaya hidup dan kebutuhan dasar.
Kecemasan Geopolitik: Ketegangan global yang berdampak pada harga minyak dunia dan rantai pasok pangan menciptakan rasa tidak aman secara psikologis bagi masyarakat luas.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "psychological economic distress", di mana meskipun ekonomi secara nasional tumbuh, individu merasa ekonomi mereka sendiri sedang mengalami kontraksi. Perasaan tidak aman akan masa depan inilah yang memicu sikap pesimis yang meluas.