Gangguan Tidur: Penggunaan gadget hingga larut malam mengganggu ritme sirkadian anak, yang berdampak pada fokus belajar di sekolah.
Gangguan Citra Tubuh: Paparan terhadap konten yang telah difilter secara berlebihan dapat merusak kepercayaan diri anak terhadap fisik mereka sendiri.
Dengan menetapkan batas usia 15 tahun, Uni Eropa berharap dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk melewati masa perkembangan kritis mereka tanpa intervensi algoritma yang eksploitatif. Masa ini dianggap sebagai periode penting di mana pembentukan identitas diri sedang berlangsung secara intensif.
Bahaya Kecerdasan Buatan (AI) bagi Generasi Muda
Selain media sosial, kehadiran AI generatif seperti ChatGPT, Midjourney, dan berbagai alat pembuat konten otomatis lainnya juga menjadi sorotan utama dalam proposal ini. Meskipun AI menawarkan potensi besar dalam dunia pendidikan, risiko yang menyertainya bagi anak di bawah umur dinilai terlalu besar untuk diabaikan.
Penggunaan AI oleh anak-anak tanpa pengawasan ketat dikhawatirkan akan mengikis kemampuan berpikir kritis mereka. Alih-alih belajar proses pemecahan masalah, anak-anak cenderung menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban instan, yang dalam jangka panjang dapat menghambat perkembangan kognitif.
Risiko Eksploitasi Data dan Konten Deepfake
Lebih jauh lagi, masalah privasi menjadi perhatian serius. Teknologi AI mampu mengumpulkan dan menganalisis data pribadi dalam skala yang sangat masif. Anak-anak sering kali tidak menyadari bahwa interaksi mereka dengan chatbot atau aplikasi berbasis AI sedang membangun profil digital mereka yang dapat disalahgunakan oleh pihak ketiga.
Ada pula ancaman terkait teknologi deepfake. Di tangan yang salah, teknologi AI dapat digunakan untuk menciptakan konten manipulatif yang melibatkan wajah atau suara anak-anak. Hal ini membuka pintu lebar bagi eksploitasi seksual anak secara digital, penipuan, hingga perundungan yang sangat canggih dan sulit dilawan secara hukum konvensional.