DWJ Manajement - PORTAL

Fenomena Baru: Belanja Sembako Kini Banyak Dibayar Pakai Paylater

Oleh: DWJ-Manajement 27 Jul 2026
Fenomena Baru: Belanja Sembako Kini Banyak Dibayar Pakai Paylater

Jebakan Psikologis "Kemudahan" Digital

Secara psikologis, fitur paylater menciptakan ilusi kemampuan finansial. Ketika seseorang melihat saldo di aplikasi menunjukkan limit yang tersedia, otak cenderung meresponsnya sebagai "uang tambahan", bukan sebagai "utang yang harus dibayar". Hal inilah yang memicu perilaku konsumtif, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mendesak.

Saat belanja sembako menggunakan paylater, beban tersebut tidak terasa berat di awal. Namun, ketika tagihan tersebut menumpuk dan berbarengan dengan tagihan kebutuhan lainnya, masyarakat seringkali terjebak dalam siklus "gali lubang tutup lubang". Mereka menggunakan satu layanan paylater untuk melunasi layanan lainnya, yang pada akhirnya justru memperbesar beban bunga secara eksponensial.

Risiko Besar di Balik Layanan Belanja "Beli Sekarang, Bayar Nanti"

Meskipun menawarkan solusi instan bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan likuiditas, penggunaan paylater untuk kebutuhan pokok membawa risiko yang sangat serius. Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa ketergantungan pada utang untuk kebutuhan konsumsi dasar adalah tanda rapuhnya fondasi ekonomi rumah tangga.

Berikut adalah beberapa risiko utama yang harus diwaspadai oleh masyarakat:

1. Beban Bunga yang Menggerus Pendapatan

Berbeda dengan kredit bank konvensional yang biasanya memiliki bunga lebih rendah untuk tujuan produktif, paylater cenderung menetapkan bunga dan biaya layanan yang cukup tinggi. Jika digunakan secara terus-menerus untuk kebutuhan sehari-hari, total uang yang dikeluarkan masyarakat akan jauh lebih besar daripada harga asli sembako tersebut. Ini berarti, masyarakat sebenarnya sedang membayar "pajak kemiskinan" melalui bunga cicilan.

2. Penurunan Skor Kredit (SLIK OJK)

Setiap transaksi paylater yang tercatat di perusahaan finansial akan masuk ke dalam sistem informasi keuangan. Jika pengguna gagal bayar atau terlambat melakukan pelunasan, skor kredit mereka akan memburuk. Hal ini akan menyulitkan mereka di masa depan ketika benar-benar membutuhkan pinjaman produktif, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal usaha.

3. Tekanan Mental dan Stres Finansial