Tahap Desain dan Rekayasa (R&D): Sebelum menyentuh komponen fisik, setiap drone dimulai dari simulasi komputer. Para insinyur menggunakan perangkat lunak canggih untuk menguji stabilitas aerodinamika, beban angkut, hingga efisiensi konsumsi daya baterai.
Pemilihan Material Komposit: Untuk memastikan bobot yang ringan namun memiliki kekuatan struktural yang tinggi, penggunaan material seperti serat karbon (carbon fiber) menjadi kunci utama. Material ini memungkinkan drone terbang lebih lama dan lebih tangguh menghadapi angin.
Perakitan Struktur Utama (Airframe): Bagian rangka atau airframe dirakit dengan tingkat presisi milimeter. Ketidakseimbangan sedikit saja pada struktur dapat menyebabkan getaran berlebih yang mengganggu sensor navigasi.
Integrasi Sistem Elektronika dan Avionik: Ini adalah "otak" dari drone. Pemasangan Flight Controller, modul GPS, sensor IMU, hingga sistem komunikasi data dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari gangguan elektromagnetik.
Kalibrasi Perangkat Lunak: Setelah hardware terpasang, tahap selanjutnya adalah memasukkan algoritma kendali terbang. Software ini harus mampu mengoreksi posisi drone secara real-time agar tetap stabil di udara.
Quality Control dan Uji Terbang: Sebelum sampai ke tangan konsumen, setiap unit wajib melewati serangkaian uji coba, mulai dari uji ketahanan baterai hingga uji terbang (flight test) di area terbuka untuk memastikan semua sistem berfungsi normal.
Inovasi yang Tak Pernah Berhenti
Apa yang membuat drone produksi Bandung ini berbeda dengan drone konsumer yang banyak beredar di pasaran? Jawabannya terletak pada kustomisasi dan ketangguhan. Drone yang dikembangkan oleh tim alumni ITB ini dirancang untuk bekerja dalam kondisi lingkungan yang menantang, seperti cuaca ekstrem atau area dengan sinyal yang minim.