DWJ Manajement - PORTAL

FTSE Russell Depak Dua Saham BUMN, Ini Alasannya

Oleh: DWJ-Manajement 21 Aug 2026
FTSE Russell Depak Dua Saham BUMN, Ini Alasannya

Analisis Penyebab: Mengapa Saham BUMN Menjadi Sasaran?

Fenomena keluarnya saham BUMN dari indeks global sering kali berkaitan erat dengan struktur kepemilikan negara. Sebagai perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah, banyak BUMN di Indonesia memiliki porsi kepemilikan mayoritas yang sangat besar di tangan negara. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri dalam memenuhi kriteria free float yang dipersyaratkan oleh FTSE Russell.

Ketika jumlah saham yang beredar di masyarakat (public float) dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan total kapitalisasi pasarnya, maka saham tersebut dianggap memiliki risiko likuiditas yang tinggi. Investor global cenderung menghindari saham dengan free float rendah karena mereka khawatir akan kesulitan melakukan eksekusi transaksi dalam jumlah besar (block trade) tanpa menggerakkan harga secara drastis.

Selain faktor kepemilikan, kondisi pasar yang sedang lesu juga dapat memperburuk likuiditas. Jika aktivitas perdagangan pada saham BUMN tersebut menurun dalam periode evaluasi, maka secara otomatis skor likuiditas mereka akan merosot, yang berujung pada keputusan penghapusan dari indeks.

Dampak Terhadap Arus Modal Asing (Foreign Flow)

Dampak paling langsung dari keputusan FTSE Russell ini adalah adanya potensi aksi jual dari investor institusi mancanegara. Banyak dana kelolaan, seperti ETF (Exchange Traded Fund) yang mengacu pada indeks FTSE, memiliki mandat untuk hanya memegang saham-saham yang ada dalam daftar indeks tersebut.

Ketika sebuah saham resmi dinyatakan keluar (deleted) dari indeks, manajer investasi asing akan melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham tersebut untuk memastikan kepatuhan terhadap strategi investasi mereka. Proses jual massal ini sering kali menyebabkan:

Tekanan Jual yang Intens: Volume penjualan yang besar dalam waktu singkat dapat menekan harga saham secara signifikan.

Volatilitas Tinggi: Harga saham cenderung bergerak liar akibat ketidakpastian pasar saat proses transisi terjadi.

Penurunan Nilai Kapitalisasi Pasar: Secara kolektif, keluarnya saham-saham besar dari indeks dapat memengaruhi indeks harga saham gabungan (IHSG).