DWJ Manajement - PORTAL

Global Gonjang-ganjing, Suahasil Klaim Ekonomi RI Masih Tangguh

Oleh: DWJ-Manajement 18 Sep 2026
Global Gonjang-ganjing, Suahasil Klaim Ekonomi RI Masih Tangguh

Ekonomi Indonesia Diklaim Tetap Tangguh di Tengah Badai Geopolitik dan Tekanan Suku Bunga The Fed

JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meruncing, stabilitas ekonomi Indonesia menjadi sorotan utama. Meskipun dunia tengah dihantam oleh berbagai gejolak geopolitik dan kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat, pemerintah menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional masih memiliki daya tahan yang kuat untuk menghadapi guncangan tersebut.

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Napitupulu, menegaskan bahwa meskipun situasi internasional sedang mengalami "gonjang-ganjing", Indonesia telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Hal ini menjadi penting mengingat volatilitas pasar keuangan global yang sangat tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pusaran Geopolitik dan Ketidakpastian Global

Saat ini, peta politik dunia sedang berada dalam kondisi yang sangat rentan. Konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, terutama ketegangan di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang belum menemui titik terang, telah menciptakan efek domino terhadap rantai pasok global. Ketegangan ini tidak hanya memicu ketidakpastian politik, tetapi juga berdampak langsung pada fluktuasi harga komoditas energi dan pangan dunia.

Ketidakpastian geopolitik ini memaksa para investor untuk bersikap lebih berhati-hati (*risk-averse*). Aliran modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang (*emerging markets*) menuju aset-aset yang dianggap lebih aman (*safe haven*), seperti dolar AS atau emas. Kondisi inilah yang menjadi tantangan besar bagi negara-negara, termasuk Indonesia, dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan arus modal keluar.

Dampak Kebijakan Moneter The Fed terhadap Pasar Berkembang

Selain faktor geopolitik, tekanan terbesar terhadap ekonomi global saat ini datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), secara konsisten mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk memerangi inflasi. Kebijakan "higher for longer" atau mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama ini menjadi ancaman nyata bagi likuiditas global.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga, selisih imbal hasil (*yield spread*) antara aset keuangan Amerika Serikat dengan negara berkembang menjadi menyempit. Hal ini sering kali memicu tekanan depresiasi pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah. Kenaikan suku bunga di AS juga meningkatkan biaya pinjaman global, yang pada gilirannya dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.