Kerusakan Mesin Jet: Partikel abu vulkanik mengandung silika yang memiliki titik leleh tinggi. Ketika masuk ke dalam mesin jet yang panas, abu ini akan mencair dan kemudian membeku kembali pada komponen mesin, yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi mesin secara mendadak (engine stall).
Gangguan Jarak Pandang: Konsentrasi abu yang tinggi di udara dapat menurunkan jarak pandang pilot secara signifikan, yang sangat berisiko terutama pada fase lepas landas (take-off) dan mendarat (landing).
Erosi pada Kaca Kokpit: Partikel tajam dari abu vulkanik dapat mengikis kaca depan kokpit (windshield), yang dapat mengaburkan pandangan pilot saat terbang di kecepatan tinggi.
Kerusakan Sensor Pesawat: Abu dapat menyumbat sensor-sensor penting seperti Pitot tube yang berfungsi mengukur kecepatan udara, sehingga memberikan data yang tidak akurat kepada pilot.
Geliat Mobilitas Penumpang di Terminal Halim
Sejak gerbang keberangkatan dibuka kembali pagi ini, suasana di Terminal Penumpang Bandara Halim Perdanakusuma terpantau sangat ramai. Antrean di meja check-in dan area imigrasi mulai terlihat padat, seiring dengan kembalinya jadwal penerbangan domestik maupun internasional yang sempat tertunda.
Para penumpang terlihat mulai memadati ruang tunggu dengan ekspresi lega. Salah satu penumpang, seorang pelaku bisnis yang hendak menuju Surabaya, mengungkapkan rasa syukurnya atas dibukanya kembali akses penerbangan ini. "Kemarin jadwal saya sempat kacau karena penutupan. Hari ini saya senang sekali karena akhirnya bisa kembali terbang tepat waktu. Kami memang butuh kepastian terkait keamanan," ujarnya di area keberangkatan.
Tidak hanya penumpang perorangan, sektor logistik dan pengiriman barang melalui jalur udara juga mulai kembali bergerak. Hal ini sangat penting mengingat Bandara Halim memiliki peran strategis dalam mendukung distribusi barang dan konektivitas ekonomi di kawasan Jakarta dan sekitarnya.