DWJ Manajement - PORTAL

Harga Minyak Turun Lagi, Kini Sudah di US$87,86

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Harga Minyak Turun Lagi, Kini Sudah di US$87,86

Harga Minyak Dunia Kembali Terkoreksi ke Level US$87,86, Faktor Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Pasar Merespons Positif Meredanya Ketegangan di Timur Tengah, Tren Penurunan Berlanjut

Pergerakan harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Setelah sempat mengalami volatilitas tinggi akibat ketidakpastian global, harga minyak kini merosot ke level US$87,86 per barel. Penurunan ini mencerminkan perubahan sentimen pelaku pasar yang mulai mengalihkan fokus dari risiko konflik menuju stabilitas kawasan.

Melemahnya harga minyak ini terjadi di tengah euforia pasar yang melihat adanya peluang meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, ketegangan di wilayah tersebut sempat menjadi "premium risiko" yang mendorong harga minyak melonjak tajam. Namun, sinyal-sinyal diplomasi yang mulai muncul membuat spekulasi mengenai gangguan pasokan minyak global menurun drastis.

Mengapa Harga Minyak Dunia Terus Melemah?

Ada beberapa faktor fundamental dan teknikal yang saling berkaitan yang menyebabkan harga minyak mengalami tekanan jual pada perdagangan hari ini. Para analis pasar energi menyebutkan bahwa pergeseran persepsi risiko adalah faktor tunggal paling berpengaruh dalam beberapa hari terakhir.

1. Meredanya Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Faktor utama yang menekan harga minyak adalah melandainya ketegangan di Timur Tengah. Selama beberapa bulan terakhir, pasar selalu dihantui oleh potensi gangguan pada jalur distribusi minyak di Selat Hormuz atau konflik terbuka yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya upaya de-eskalasi yang lebih intensif.

Ketika risiko gangguan pasokan fisik menurun, investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada kontrak berjangka minyak. Hal ini secara otomatis menciptakan tekanan jual yang signifikan di pasar komoditas global. Pelaku pasar kini merasa bahwa risiko "supply shock" tidak akan terjadi dalam waktu dekat, sehingga tidak ada lagi kebutuhan untuk memegang posisi beli yang agresif.

2. Penyesuaian Ekspektasi Permintaan Global

Selain faktor geopolitik, dinamika permintaan global juga turut berperan. Meskipun pertumbuhan ekonomi di beberapa negara maju menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun data dari beberapa sektor industri memberikan sinyal yang lebih moderat. Hal ini membuat pasar kembali bersikap skeptis terhadap ledakan permintaan minyak dalam jangka pendek.