DWJ Manajement - PORTAL

Harga Telur Masih Anjlok, Kuota Jagung Pakan Diusulkan Tambah 150 Ribu Ton

Oleh: DWJ-Manajement 20 Aug 2026
Harga Telur Masih Anjlok, Kuota Jagung Pakan Diusulkan Tambah 150 Ribu Ton

Harga Telur Masih Anjlok, Bapanas Usulkan Penambahan Kuota Jagung Pakan 150 Ribu Ton demi Stabilkan Harga

Intervensi melalui program SPHP diharapkan mampu meringankan beban biaya produksi peternak unggas yang tengah terhimpit fluktuasi harga pasar.

Kondisi sektor peternakan unggas nasional saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas pangan, harga telur ayam di tingkat peternak dilaporkan masih mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha peternak rakyat yang sangat bergantung pada keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual di pasar.

Menanggapi situasi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah proaktif dengan mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) khusus untuk komoditas jagung pakan. Usulan penambahan ini direncanakan mencapai angka 150 ribu ton guna menekan biaya input produksi di tingkat peternak.

Dilema Peternak: Harga Jual Rendah, Biaya Pakan Tinggi

Persoalan utama yang dihadapi oleh para peternak ayam petelur saat ini adalah ketidakseimbangan neraca ekonomi. Di satu sisi, harga jual telur di tingkat konsumen maupun distributor mengalami penurunan atau stagnasi. Namun di sisi lain, komponen biaya produksi, terutama pakan, tetap tinggi dan tidak stabil.

Jagung merupakan komponen utama dalam pembuatan pakan ternak, yang menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen dari total biaya produksi pakan. Ketika harga jagung di pasar mengalami kenaikan atau ketersediaannya terbatas, maka biaya produksi telur otomatis akan membengkak. Hal ini menciptakan margin keuntungan yang sangat tipis, bahkan dalam beberapa kasus, peternak mengalami kerugian operasional.

Kondisi ini jika dibiarkan terus-menerus dikhawatirkan akan memicu gelombang pengurangan populasi ayam oleh peternak. Penurunan populasi ayam secara masif di masa depan justru akan menyebabkan kelangkaan pasokan telur, yang pada akhirnya akan memicu lonjakan harga telur yang tidak terkendali di tingkat konsumen.

Usulan Penambahan 150 Ribu Ton Jagung Pakan

Untuk memutus rantai masalah tersebut, Bapanas mengusulkan adanya intervensi langsung melalui penguatan stok jagung pakan. Penambahan kuota sebesar 150 ribu ton jagung pakan dalam program SPHP dinilai sebagai langkah strategis untuk mengintervensi pasar.

Berikut adalah beberapa poin utama terkait usulan penambahan kuota tersebut:

Stabilisasi Biaya Produksi: Dengan masuknya tambahan pasokan jagung melalui program SPHP, diharapkan harga jagung pakan di tingkat peternak dapat lebih terkendali dan tidak fluktuatif.

Menjaga Keberlangsungan Peternak: Penurunan biaya pakan akan memberikan ruang napas bagi peternak, sehingga mereka tetap mampu beroperasi meskipun harga telur sedang tertekan.

Menjamin Pasokan Pangan: Dengan terjaganya populasi ayam melalui stabilitas biaya, maka pasokan telur sebagai sumber protein hewani murah bagi masyarakat akan tetap terjamin.

Mitigasi Inflasi: Stabilitas harga telur secara tidak langsung akan membantu pemerintah dalam mengendalikan inflasi kelompok bahan makanan (volatile foods).

Mengapa Program SPHP Menjadi Kunci?

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dirancang untuk menjamin ketersediaan pangan dengan harga yang terjangkau. Dalam konteks jagung pakan, program ini berfungsi sebagai "buffer" atau penyangga ketika pasokan pasar mengalami gangguan atau ketika harga melonjak di luar batas kewajaran.

Dengan menambah kuota hingga 150 ribu ton, pemerintah melalui Bapanas berupaya melakukan manajemen stok yang lebih efektif. Jagung yang disalurkan melalui skema SPHP diharapkan dapat langsung menyasar titik-titik produksi pakan yang membutuhkan intervensi harga, sehingga distribusi beban biaya dapat dirasakan langsung oleh peternak di daerah.

Korelasi Langsung Jagung, Pakan, dan Harga Telur

Banyak masyarakat umum mungkin bertanya-tanya, mengapa penambahan kuota jagung sangat berpengaruh pada harga telur? Jawabannya terletak pada rantai pasok produksi pangan yang sangat terintegrasi. Secara sederhana, mekanismenya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, jagung adalah bahan baku utama pakan. Kedua, pakan adalah biaya terbesar dalam budidaya ayam petelur. Ketiga, biaya pakan menentukan harga pokok produksi (HPP) telur. Jika HPP terlalu tinggi sementara permintaan pasar sedang lesu, peternak akan kesulitan menentukan harga jual yang kompetitif tanpa merugi.

Oleh karena itu, intervensi pada hulu (jagung) adalah kunci untuk memperbaiki kondisi di hilir (harga telur). Jika biaya pakan turun, peternak memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menetapkan harga jual yang stabil, yang pada akhirnya akan menciptakan ekosistem pasar yang lebih sehat.

Tantangan Distribusi dan Logistik Nasional

Meskipun usulan penambahan kuota ini sangat krusial, tantangan besar tetap membayangi, terutama dalam hal distribusi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan logistik yang kompleks. Menyalurkan 150 ribu ton jagung ke seluruh pelosok sentra peternakan membutuhkan koordinasi yang sangat solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku distribusi.

Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi meliputi:

Infrastruktur Logistik: Memastikan armada pengangkut dan gudang penyimpanan tersedia dalam kondisi baik untuk menjaga kualitas jagung.

Ketepatan Sasaran: Memastikan bahwa jagung SPHP benar-benar sampai ke tangan industri pakan atau peternak yang membutuhkan, bukan justru disalahgunakan untuk komoditas lain.

Sinkronisasi Data: Diperlukan data yang akurat mengenai kebutuhan jagung di setiap wilayah agar penambahan kuota ini tidak menyebabkan surplus yang tidak perlu di satu daerah namun tetap kekurangan di daerah lain.

Kesimpulan

Langkah Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mengusulkan penambahan kuota jagung pakan sebesar 150 ribu ton melalui program SPHP merupakan kebijakan yang tepat sasaran untuk merespons anjloknya harga telur. Dengan menstabilkan biaya pakan di tingkat hulu, pemerintah tidak hanya membantu menyelamatkan ekonomi peternak, tetapi juga sedang membangun benteng pertahanan untuk stabilitas pangan nasional.

Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada kecepatan eksekusi, akurasi distribusi, dan sinergi antarlembaga. Jika dikelola dengan baik, intervensi ini diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan pasar, menjaga populasi ternak, dan memastikan masyarakat tetap dapat mengakses protein telur dengan harga yang terjangkau.

Menampilkan Seluruh Artikel