DWJ Manajement - PORTAL

IHSG Makin Murah dalam 6 Bulan, Saham Ini Jadi Buruan Asing

Oleh: DWJ-Manajement 06 Jul 2026
IHSG Makin Murah dalam 6 Bulan, Saham Ini Jadi Buruan Asing

IHSG Makin Murah dalam 6 Bulan, Saham Komoditas dan Energi Jadi Buruan Baru Investor Asing

Dinamika Pasar Modal Indonesia: Antara Aksi Net Sell dan Peluang Valuasi Rendah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam enam bulan terakhir menyajikan dinamika yang cukup kontradiktif bagi para pelaku pasar. Di satu sisi, pasar modal Indonesia sempat mengalami tekanan yang cukup signifikan akibat aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni Rp2,73 triliun. Namun, di sisi lain, kondisi ini justru membuka peluang emas bagi para investor yang jeli melihat nilai intrinsik perusahaan.

Meskipun aliran modal asing sempat keluar dalam jumlah besar, data terbaru menunjukkan adanya pergeseran strategi dari para investor institusi global. Alih-alih meninggalkan pasar Indonesia secara keseluruhan, mereka justru mulai melakukan rotasi portofolio dengan menyasar saham-saham di sektor komoditas dan energi yang saat ini sedang diperdagangkan pada valuasi yang tergolong murah atau "undervalued". Fenomena ini mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, meski pasar sedang mengalami fase koreksi.

Membedah Fenomena Net Sell Rp2,73 Triliun

Aksi net sell asing sebesar Rp2,73 triliun dalam periode tertentu tentu menjadi sinyal waspada bagi investor ritel. Tekanan jual ini umumnya dipicu oleh kombinasi berbagai faktor makroekonomi yang kompleks. Beberapa analis berpendapat bahwa ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed), menjadi salah satu pemicu utama aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Selain faktor global, terdapat beberapa alasan teknis mengapa investor asing melakukan aksi ambil untung (profit taking) atau keluar dari pasar dalam jumlah besar:

Ketidakpastian Suku Bunga: Ekspektasi mengenai kapan kebijakan moneter akan melonggar membuat investor cenderung bersikap defensif.

Rotasi Sektor: Investor asing seringkali melakukan perpindahan aset dari sektor perbankan (big caps) yang sudah mencapai valuasi tinggi menuju sektor lain yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dengan harga lebih murah.

Sentimen Komoditas Global: Fluktuasi harga komoditas di pasar internasional seringkali memicu penyesuaian portofolio secara cepat oleh manajer investasi global.

Namun, penting untuk dipahami bahwa net sell tidak selalu berarti sentimen negatif terhadap ekonomi domestik. Seringkali, ini hanyalah mekanisme penyeimbangan portofolio atau strategi untuk mencari yield yang lebih baik di instrumen lain.

Mengapa IHSG Dinilai "Murah" Saat Ini?

Banyak pengamat pasar modal menilai bahwa IHSG saat ini sedang berada dalam zona "diskon". Secara historis, valuasi indeks dapat dilihat melalui rasio Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Ketika angka-angka ini berada di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir, maka pasar dapat dikatakan sedang murah.

Kondisi "murah" ini terjadi karena harga saham di bursa mengalami koreksi yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan-perusahaan yang tercatat di dalamnya. Hal ini menciptakan gap antara harga pasar dan nilai fundamental yang sebenarnya. Bagi investor dengan cakrawala waktu jangka panjang, kondisi seperti ini seringkali dianggap sebagai momentum "buy on weakness" atau membeli saat harga sedang tertekan.