DWJ Manajement - PORTAL

IHSG Sesi 1 Turun Nyaris 1%, Ini Penyebabnya

Oleh: DWJ-Manajement 29 Jun 2026
IHSG Sesi 1 Turun Nyaris 1%, Ini Penyebabnya

Sektor Infrastruktur dan Properti: Sentimen mengenai daya beli masyarakat dan kebijakan moneter juga berdampak pada sektor-sektor sensitif seperti properti dan infrastruktur.

Sektor Konsumer: Meskipun cenderung defensif, sektor konsumer pun tidak luput dari aksi jual ringan seiring dengan penyesuaian portofolio oleh investor asing.

Analisis Penyebab Penurunan IHSG

Banyak pihak mempertanyakan apa yang sebenarnya memicu koreksi tajam ini. Meskipun pasar saham dipengaruhi oleh ribuan variabel, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang diduga kuat menjadi penyebab utama merosotnya IHSG di sesi pertama ini.

1. Sentimen Makro Ekonomi Global yang Belum Stabil

Faktor eksternal tetap menjadi penggerak utama pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakpastian mengenai kebijakan moneter Amerika Serikat melalui Federal Reserve (The Fed) terus membayangi pasar global. Isu mengenai kapan pemangkasan suku bunga akan dimulai atau apakah suku bunga akan bertahan tinggi dalam waktu lama (higher for longer) membuat investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset yang dianggap lebih aman (safe haven assets) seperti Dollar AS atau US Treasury.

Selain itu, kondisi geopolitik global yang masih memanas juga menambah ketidakpastian. Konflik di berbagai belahan dunia seringkali memicu fluktuasi harga komoditas dan energi, yang pada akhirnya berdampak pada persepsi risiko investor di pasar saham.

2. Arus Keluar Modal Asing (Net Foreign Sell)

Salah satu indikator penting dalam pergerakan IHSG adalah aliran dana asing. Pada sesi pertama ini, terlihat adanya kecenderungan aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia. Aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing memberikan tekanan jual yang besar, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi incaran dana institusi global.

Ketika investor asing melakukan aksi jual secara masif, likuiditas di pasar cenderung terserap untuk menutupi kebutuhan atau melakukan rebalancing portofolio di negara lain. Hal ini secara otomatis menciptakan tekanan pada harga saham di dalam negeri, yang kemudian menjatuhkan IHSG ke level di bawah 5.900.

3. Aksi Ambil Untung (Profit Taking) Secara Masif