BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Penjualan asing yang signifikan memperburuk performa sektor perbankan.
BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Ikut terseret arus keluar modal asing di sektor finansial.
TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Sektor telekomunikasi juga tidak luput dari aksi jual investor global.
ASII (PT Astra International Tbk): Sentimen konsumsi yang melambat memicu aksi lepas saham oleh asing.
BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk): Melengkapi tren pelemahan di sektor perbankan plat merah.
UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk): Saham konsumer ini juga mengalami tekanan jual yang cukup dalam.
ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Investor asing cenderung mengurangi eksposur pada sektor konsumsi.
PGAS (PT Perusahaan Gas Negara Tbk): Sektor energi turut merasakan dampak dari arus keluar modal.
ADRO (PT Adaro Energy Indonesia Tbk): Saham komoditas ini juga mengalami aksi ambil untung oleh asing.
Analisis Sentimen: Mengapa Asing Keluar Masif?
Para analis dari berbagai sekuritas ternama memberikan pandangan terkait fenomena ini. Salah satu faktor yang diduga kuat adalah kebijakan suku bunga global yang masih dianggap belum stabil. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral di negara-negara maju seringkali memicu investor untuk menarik modal dari pasar negara berkembang (*emerging markets*) seperti Indonesia guna mencari aset yang lebih aman (*safe haven*).
Selain itu, faktor domestik juga memainkan peran. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergolong stabil, namun sentimen terhadap nilai tukar Rupiah yang mengalami volatilitas tinggi membuat investor asing cenderung bersikap defensif. Penjualan jumbo pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI menunjukkan bahwa asing tengah melakukan rebalancing portofolio secara agresif.