Ada beberapa faktor ilmiah yang dapat menjelaskan mengapa ikan ini bisa ditemukan terdampar di pantai:
Perubahan Suhu Air Laut: Perubahan suhu yang drastis di lapisan air tertentu dapat memaksa ikan untuk berpindah mencari habitat yang lebih sesuai dengan toleransi suhu tubuh mereka.
Arus Laut yang Kuat: Perubahan pola arus laut dapat menyeret organisme dari laut dalam ke arah pesisir atau area yang lebih dangkal secara tidak sengaja.
Kondisi Kesehatan dan Parasit: Ikan yang sakit, terluka, atau terserang parasit seringkali kehilangan kemampuan untuk mempertahankan posisi mereka di kedalaman, sehingga mereka perlahan naik ke permukaan dan akhirnya terdampar.
Tekanan Hidrostatis: Gangguan pada sistem keseimbangan ikan akibat perubahan tekanan air dapat membuat mereka kesulitan untuk tetap berada di kedalaman habitat aslinya.
Pakar: Jangan Terjebak Narasi Ketakutan
Menanggapi fenomena di Lombok, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketakutan yang berlebihan akibat mitos dapat memicu kepanikan massal yang justru merugikan stabilitas sosial dan ekonomi di daerah pariwisata seperti Lombok.
Pakar menekankan bahwa untuk memantau potensi gempa bumi, masyarakat harus selalu merujuk pada lembaga resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memiliki perangkat sensor seismik yang canggih dan tersebar di berbagai titik untuk mendeteksi aktivitas lempeng bumi secara real-time, yang jauh lebih akurat dibandingkan mengandalkan pengamatan terhadap perilaku hewan.
"Kita harus bersikap skeptis terhadap kaitan antara fenomena biologis dengan fenomena geologis jika tidak ada bukti pendukung. Ikan oarfish adalah fenomena yang langka dan menarik untuk dipelajari secara biologi, namun mengaitkannya dengan gempa adalah lompatan logika yang tidak memiliki dasar sains," ujar salah satu pengamat oseanografi dalam sebuah diskusi ilmiah.