Mungkin muncul pertanyaan di benak masyarakat: mengapa tidak menggunakan drone bawah air atau robot penyelam biasa? Meskipun drone sudah sangat canggih, mereka memiliki keterbatasan fisik yang signifikan saat berhadapan dengan medan bencana yang ekstrem. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kecoa cyborg menjadi pilihan yang lebih unggul dalam skenario tertentu:
Ukuran yang Sangat Kecil: Kecoa dapat menyelinap ke dalam celah retakan bangunan atau pipa air yang sangat sempit, tempat di mana robot penyelam standar tidak mungkin masuk.
Efisiensi Energi: Karena menggunakan sistem metabolisme biologis untuk bergerak, kecoa tidak membutuhkan baterai besar yang berat seperti robot sepenuhnya, sehingga durasi operasionalnya bisa lebih lama.
Kemampuan Navigasi Alami: Serangga memiliki insting navigasi yang sangat baik dalam kegelapan dan ruang sempit, yang dapat dipadukan dengan sensor elektronik untuk memetakan area secara real-time.
Biaya Produksi: Menggunakan organisme hidup sebagai platform dasar dapat menekan biaya pengembangan dibandingkan membangun robot mekanik yang sangat kompleks dari nol.
Misi Pencarian di Area Bencana: Masa Depan Search and Rescue (SAR)
Implementasi utama dari teknologi ini adalah untuk membantu tim penyelamat dalam menghadapi situasi darurat. Dalam bencana banjir besar, misalnya, area yang tergenang air seringkali dipenuhi oleh puing-puing dan lumpur yang pekat. Mengirimkan penyelam manusia ke area tersebut sangat berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa.
Kecoa cyborg ini dapat diterjunkan untuk menyisir dasar air atau celah-celah reruntuhan bangunan yang terendam. Dengan sensor kamera mikro yang dipasang pada tubuhnya, alat ini dapat mengirimkan transmisi visual secara langsung kepada operator di permukaan mengenai keberadaan korban atau objek penting lainnya.