Resonansi Tanah: Lapisan sedimen yang tebal dapat memiliki periode getaran alami yang selaras dengan periode gelombang gempa tertentu, yang mengakibatkan guncangan berlangsung lebih lama dan lebih destruktif.
Penangkapan Gelombang: Bentuk cekungan bertindak layaknya "mangkuk" yang dapat memerangkap gelombang seismik di dalamnya, sehingga energi gempa berputar-putar di dalam cekungan dan memperlama durasi guncangan.
Ancaman Nyata: Bahaya Likuefaksi di Kawasan Cekungan
Selain penguatan guncangan, ancaman yang paling menakutkan bagi masyarakat Bandung adalah likuefaksi. Likuefaksi adalah fenomena di mana tanah kehilangan kekuatannya dan berperilaku seperti cairan akibat adanya tekanan air pori yang tinggi saat terjadi guncangan gempa yang kuat.
Mengingat Bandung adalah bekas dasar danau, maka ketersediaan material pasir halus yang jenuh air di bawah permukaan tanah sangat melimpah. Dalam kondisi gempa, butiran-butiran tanah ini akan terlepas dari ikatan satu sama lain karena tekanan air yang meningkat secara mendadak, menyebabkan tanah "mencair".
Dampaknya sangat mengerikan bagi infrastruktur perkotaan:
Penurunan Tanah (Settlement): Bangunan dapat tenggelam ke dalam tanah secara perlahan atau tiba-tiba.
Pergeseran Tanah: Tanah dapat bergerak secara lateral, menyeret pondasi bangunan, jalan raya, dan pipa utilitas.
Kerusakan Total Struktur: Bangunan yang tidak memiliki sistem pondasi dalam yang mencapai batuan keras akan mengalami kegagalan struktur secara total karena tidak lagi memiliki tumpuan yang stabil.
Para ahli mengingatkan bahwa daerah-daerah yang memiliki sejarah sebagai dasar danau, terutama yang memiliki endapan pasir yang tebal, adalah zona merah yang memiliki potensi likuefaksi paling tinggi di wilayah Bandung Raya.
Pentingnya Mitigasi Berbasis Data Geologi