Menghadapi situasi yang sangat kompleks ini, para ahli menyarankan agar Irak tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek seperti memberikan subsidi atau bantuan sosial. Dalam jangka panjang, Irak harus melakukan reformasi struktural yang mendalam untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.
Beberapa langkah strategis yang perlu diambil antara lain:
Diversifikasi Ekonomi: Membangun sektor manufaktur, pariwisata, dan teknologi untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang tidak terpaku pada fluktuasi harga minyak.
Penguatan Ketahanan Pangan: Mengembangkan sektor pertanian domestik agar Irak tidak terlalu bergantung pada impor untuk kebutuhan pokok.
Diplomasi Aktif: Menggunakan peran diplomatik untuk menjaga netralitas dan mendorong deeskalasi konflik antara AS dan Iran, guna memastikan jalur perdagangan tetap terbuka.
Peningkatan Infrastruktur Logistik: Memperkuat jalur distribusi internal agar distribusi barang tetap lancar meskipun terjadi gangguan pada jalur impor utama.
Kesimpulan
Krisis yang menimpa Irak merupakan pengingat keras tentang betapa rapuhnya sebuah negara yang kekayaannya hanya bersandar pada satu komoditas tunggal di tengah kawasan yang penuh gejolak politik. Kehilangan pendapatan sebesar Rp 1.078 triliun adalah pukulan telak yang tidak hanya mengancam stabilitas fiskal negara, tetapi juga kesejahteraan sosial jutaan rakyatnya.
Tanpa adanya upaya nyata untuk melakukan diversifikasi ekonomi dan diplomasi yang kuat untuk meredam ketegangan geopolitik AS-Iran, Irak akan terus terjebak dalam siklus kerentanan. Kekayaan minyak yang melimpah seharusnya menjadi berkah, namun tanpa pengelolaan dan diversifikasi yang tepat, ia justru bisa menjadi kutukan yang memperparah krisis setiap kali badai politik melanda dunia.